Press "Enter" to skip to content

Ocean’s 8, Film Aksi Komedi Tanpa Tensi dan Humor

Dalam buku berjudul ‘The Big Con’ karya David Maurer yang dirilis pada tahun 1940 dijelaskan bahwa harus terdapat ketegangan dalam sebuah aksi perampokan atau pencurian yang dimana aksi tersebut tidak bisa ditiru oleh kelompok kriminal lain. Hal tersebutlah yang perlu diperhatikan tatkala membuat sebuah plot dan sekumpulan karakter yang akan melakukan aksi pencurian besar.

Dalam film, bisa dikatakan bahwa penipuan bukanlah pekerjaan kelas rendah. Penipuan adalah sebuah pekerjaan kelas tinggi dimana bakat, kerja keras, dan kecerdikan dipersatukan dalam sebuah aksi. Bermain dalam sebuah taruhan yang bernilai tinggi, sebuah aksi yang dipersiapkan lama dan harus mempertaruhkan waktu yang jauh lebih lama lagi jikalau gagal dalam mengeksekusi.

Ocean’s 8 terinspirasi dari trilogi film Ocean’s sebelumnya (Ocean’s Eleven, 12, dan 13) yang disutradarai oleh Steven Soderbergh kini kembali dibuat ulang dalam sebuah cerita sequel atau mungkin lebih tepatnya sebuah cerita spinoff yang dimana seluruh tokoh utamanya diperankan wanita.

Film Ocean’s 8 bercerita tentang Debbie Ocean (Sandra Bullock) yang diceritakan sebagai saudara dari Danny Ocean yang diperankan George Clooney pada trilogi Ocean’s, merencanakan sebuah aksi pencurian bersama Lou (Cate Blanchett) tidak lama setelah Debbie keluar dari penjara. Barang yang akan ia curi adalah sebuah kalung berlian bernama Toussaint yang sudah tersimpan selama 50 tahun di ruangan bawah tanah milik brand Cartier.

Dalam menjalankan rencananya, Debbie dan Lou mengumpulkan tim yang terdiri dari para wanita yakni Nine Ball (Rihanna), Rose Weil (Helena Bonham Carter), Amita (Mindy Kaling), Tammy (Sarah Poulson), dan Constance (Awkwafina). Aksi pencurian akan dilakukan dalam sebuah acara pesta mewah bernama Met Gala dimana Toussaint akan dikenakan oleh seorang aktris terkenal bernama Daphne Kluger (Anne Hathaway).

Ocean's 8
Daphne and Rose. pic : Warner Bros

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat beberapa kata kunci penting dalam mempertunjukan sebuah aksi pencurian yakni ketegangan, bakat, kerja keras, dan juga kecerdikan. Elemen-elemen tersebutlah yang menciptakan keseruan dari sebuah aksi pencurian dan tentunya juga aksi-aksi lainnya yang diceritakan melalui berbagai medium termasuk medium film.

Namun hal-hal tersebut tidak tampak dalam film Ocean’s 8 ini. Tidak ada ketegangan yang bisa dinikmati, tidak ada aksi yang dramatik, dan tidak ada kemampuan atau bakat istimewa yang diperlihatkan tokohnya selain sebuah alat yang bisa meng-copy secara 3D, yang sebetulnya juga biasa aja.

Bukannya memberikan sebuah sajian yang penuh tensi dan bisa menjadi visual pleasure, film ini justru terasa sangat datar dan kehilangan energi dalam bercerita. Ceritanya tampak tidak hidup. Dibanding cerita, product placement yang ada dalam film ini justru terlihat lebih menonjol seperti Cartier, The Met Gala, dan Vogue

Hal-hal mendasar dalam sebuah film pun gagal dibentuk dengan baik oleh Ocean’s 8 seperti penokohan karakter, plot, dan juga dialog. Tidak ada karakter yang berkembang dengan baik dalam film ini kecuali Lou dan Daphne Kluger. Claude Becker (Richard Armitage) terlihat payah dan membosankan sebagai salah seorang karakter yang keberadaannya cukup penting dalam alur cerita utama. Kemudian Amita yang terlihat gabut sepanjang film, Rihanna yang sering tampak kaku dalam berakting, dan juga Constance yang ga lucu.

Ocean’s 8 pun memiliki pengemasan struktur alur cerita yang kurang baik. Film ini terasa datar dari awal hingga akhir, bahkan pada bagian klimaksnya pun terasa anti-klimaks. Tidak ada ketegangan yang bisa dirasakan dari sebuah film aksi.

Ocean's 8
The Ocean’s 8’s Met Gala. pic : Artnet News

Dialog film ini pun tidak ditata dengan baik. Dialog nya terasa ngasal dan sering kali terasa tidak lucu dalam beberapa bagian yang seharusnya lucu. Seperti saat Rose dan Amita meyakinkan pihak Cartier untuk mau mengeluarkan Toussaint karena tidak banyak orang diluar saya yang mampu berlafal Prancis, atau juga saat Debbie mengatakan bahwa ada anak berumur 8 tahun yang bermimpi menjadi pencuri.

Film ini padahal memiliki potensi yang tinggi dilihat dari para pemerannya yang merupakan aktris papan atas. Namun sayangnya film ini tidak mampu menghadirkan tensi yang bisa dinikmati dan juga menghadirkan rentetan visual pleasure yang seharusnya ada dalam film bertema seperti ini.

Ketika sebuah film aksi komedi tidak mampu menghadirkan tensi dan juga tidak lucu yang ada hanyalah layar yang menampilkan orang bergerak selama hampir dua jam, dan tiba-tiba seluruh karakter Ocean’s 8 sudah ada didalam kereta.

Film yang terinspirasi dari Ocean’s Eleven ini berusaha tampil dengan kemasan dan rasa yang beda. Mengikuti trend Hollywood yang sering me-remake film klasik ditambah ramainya gerakan #MeToo, banyak film yang direncanakan akan dibuat ulang namun akan diperankan oleh tokoh utama wanita. Hollywood kini ingin menunjukan bahwa film-film yang di dominasi oleh kaum pria inipun ternyata bisa sama cerdasnya, sama menegangkannya, dan sama serunya jika diperankan oleh wanita.

Sebuah ide yang menarik dan patut untuk dicoba, namun sayang sementara ini ide tersebut tampak tidak bekerja dengan baik atau bisa disebut juga gagal total.

P.S : Ocean’s 8 masih sedikit lebih baik ketimbang remake Ghostbusters.

 

Our Score (5,5/10)

 

 

Judul                     : Ocean’s 8
Produksi               : Warner Bros Pictures, Village Roadshow Pictures, Smoke House Pictures, Larger Than Life Productions
Sutradara            : Gary Ross
Penulis Cerita     : Olivia Milch, Gary Ross
Pemeran              : Sandra Bullock, Cate Blanchett, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, Sarah Poulson, Mindy Kaling, Rihanna, Awkwafina, Richard Armitage

 

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.