Categories FaveFinds Feature

Luka Cantik yang Dirawat dari Kolonialisme dalam Film-Film Indonesia pada Masa Kolonial

Film seringkali seperti menjadi bola penyihir untuk melihat masa lalu. Ia menyebarkan apa yang orang-orang tidak sadari dan membangkitkan kepedulian akan hal tersebut, termasuk luka membekas dari kolonialisme yang kerap dianggap cantik.

Di abad ke-21 ini, karya-karya yang menampilkan kebudayaan Indonesia pada masa penjajahan bermunculan. Satu per satu seolah berupaya untuk mengingatkan kembali masyarakat akan banyaknya budaya masa kini yang sebenarnya berasal dari negara asing.

Hal-hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan menjadi biasa di Indonesia nyatanya sebagian besar berasal dari negara lain. Sekecil kebiasaan makan, cara berpakaian, perabotan rumah, hingga arsitektur bangunan, aksara, dan lainnya.

1. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)
Source: Showpoiler

Film yang disutradarai oleh Sunil Soraya ini secara eksplisit memperlihatkan perbandingan budaya Eropa dan budaya asli Indonesia pada zaman kolonial. Didaptasi dari buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1938) karya Buya Hamka, kisah pada film tersebut menunjukkan proses masuknya budaya dari negara asing yang menyerap dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia pada awal abad ke-20.

Penyerapan budaya tersebut paling terlihat dalam tokoh Hayati (Pevita Pearce) yang awalnya berpakaian sesuai adat perempuan Minang – yakni berkerudung dan memakai pakaian lengan panjang dan bawahan panjang – akhirnya mulai memakai pakaian terbuka ketika bergaul dengan teman-teman yang mengikuti gaya pakaian Barat. Begitupun laki-laki Indonesia yang memilih memakai vest, kemeja, warna putih, agar dapat menyesuaikan diri dengan orang-orang Belanda.

Perabotan dan acara yang berasal dari Eropa pun telah banyak masuk dan menjadi budaya Indonesia di zaman itu. Mulai dari arsitektur rumah, pesta ala Barat, acara pacuan kuda, hingga masuknya kendaraan mobil.

2. Kartini (2017)
Source: Netflix

Kehidupan Kartini (1879-1904) pada masa kolonial dipotret dalam film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan dimainkan oleh Dian Sastrowardoyo. Pada zaman tersebut, kehidupan dalam masyarakat Jawa masih kental dalam lingkup internal keluarga, seperti pernikahan adat dan tata krama dalam keluarga.

Namun untuk meningkatkan derajat, maka masyarakat Indonesia perlu untuk membaurkan diri dengan kebudayaan barat. Ketika bertemu orang Belanda, pakaian adat seperti kebaya pun menggunakan warna putih agar menyelaraskan dengan elegansi Belanda. Pun tata bahasa dan aksara Jawa perlahan dikesampingkan, dan masuklah aksara Latin untuk memudahkan komunikasi dengan bangsa luar.

3. Bumi Manusia (2019)
Source: SINEKDOKS

Mirip seperti zaman Kartini, film adaptasi karya Hanung Bramantyo ini mengambil latar tahun 1898-1918. Adaptasi dari buku Bumi Manusia (1980) oleh Pramoedya Ananta Toer ini memperlihatkan bagaimana meleburnya kehidupan masyarakat Indonesia dengan Belanda.

Pakaian Indonesia seringkali disisipkan warna putih untuk berbaur di tengah orang-orang Belanda. Transportasi canggih seperti kereta api dan kapal bermunculan. Acara pesta menggabungkan tradisi barat serta musik dan tari tradisional Indonesia. Pesta makan riijstaf yang merupakan percampuran tradisi makan barat dan makanan asal Indonesia pun ditampilkan dalam film ini.

4. Buya Hamka (2023)
Source: CNN Indonesia

Kehidupan Buya Hamka (1908-1981) yang menciptakan buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1938) ditampilkan dalam film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi. Di antara zaman kolonial Belanda dan Jepang, perjalanan Hamka (Vino G. Bastian) dalam film menampilkan upaya masyarakat Indonesia dalam menyaring budaya-budaya asing.

Banyak budaya asing yang berguna dalam mendinamiskan kehidupan masyarakat, seperti kemunculan mesin ketik, koran, dan sepeda. Namun ada pula budaya yang bertentangan dengan kepercayaan masyarakat, seperti budaya Seikerei dari Jepang. Akhirnya, tidak semua budaya yang datang diterima begitu saja. Tokoh seperti Hamka pun berjuang agar budaya asing yang masuk tidak melewati batas dalam menentang kepercayaan yang ada di tengah masyarakat Indonesia.

5. Perang Kota (2025)
Source: CNN Indonesia

Film karya Mouly Surya ini mengisahkan masa-masa genting yang terjadi setelah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia yang menandakan kebebasannya dari jerat kolonial, yakni tahun 1946. Melalui penampilan dan kebiasaan tokoh Fatimah (Ariel Tatum), Isa (Chicco Jerikho), dan Hazil (Jerome Kurnia), terlihat bahwa pada masa itu kemerdekaan tidak serta merta menjadikan budaya kolonial menghilang.

Kebiasaan-kebiasaan seperti pesta di bar, permainan alat musik barat seperti biola, pakaian Eropa, hingga peralatan makan, masih tertinggal dan menjadi bagian dari budaya Indonesia. Budaya tersebut menjadi sesuatu yang disebut ‘modern’, bahkan bahasa Belanda pun tetap dilihat sebagai bahasa tinggi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Sebelum kedatangan orang kulit putih, kita adalah satu bangsa. Kita memiliki cara hidup, adat istiadat, dan kearifan kita sendiri. Kemudian ia datang dengan agama dan pemerintahannya. Ia mengatakan kepada kita bahwa kita masih anak-anak, bahwa cara hidup kita buruk, dan dewa-dewa kita palsu. Dan sebagian dari kita mempercayainya. Sekarang saudara saling bertikai, ayah bertikai dengan anak. Orang kulit putih duduk dan tertawa. Ia telah memecah belah manusia hidup dalam suku kita dan mengambil bagian terbaik untuk dirinya sendiri.

Begitulah kutipan dari Ngũgĩ wa Thiong’o, seorang penulis dari Kenya yang membahas dekolonisasi dalam bukunya, The River Between (1965). Film-film berlatarkan Indonesia pada masa kolonial menunjukkan betapa membekasnya budaya kolonial yang menyusup dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Ketika menonton film-film tersebut, ada kesadaran yang terpantik saat menyadari betapa banyak barang hingga perilaku asli masyarakat Indonesia karena dicap ‘primitif’ ketika zaman kolonial.

Bahasa daerah terpinggirkan sementara bahasa asing dianggap lebih tinggi. Budaya makan yang awalnya memakai tangan serta lesehan dianggap tidak sopan, dan akhirnya sampai saat ini tata cara makan mengikuti gaya barat. Pakaian seperti kebaya dan batik pun dianggap kuno, digantikan oleh pakaian dari para penjajah kolonial yang dirasa lebih beradab. Selain itu, kepercayaan masyarakat adat pun dianggap ketinggalan zaman – bahkan menyimpang – sementara kepercayaan yang dibawa dari pihak asing dirasa lebih benar dan logis.

Bermunculannya film yang menyajikan pergeseran budaya di Indonesia akibat kolonialisme seolah menjadi refleksi akan normalisasi kelumpuhan jati diri bangsa. Ketika melihat kembali sejarah menghilangnya budaya bangsa sendiri yang dianggap primitif, maka terlihat pula bahwa cap ‘primitif’ itu bukanlah kebenaran, melainkan sesuatu yang digunakan untuk menguntungkan pihak asing.

Susan Humeri Siburian

IG: @ssan_o2

Email: ofoggym0rning@gmail.com

Written By

The Monster Army

The Monster Army (Junior Writer Interns) at Monster Journal.
The force behind the steady growth of Monster Journal and currently undergo a training and mentoring under the Editors of Monster Journal.
Most of the writers are students in high-school, university, and even fresh graduates.

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

You May Also Like