Setiap akhir Desember, ruang digital Indonesia mengalami fenomena yang nyaris seragam. Linimasa dipenuhi ucapan perpisahan terhadap tahun yang berlalu dan salam optimistis untuk tahun yang akan datang.
Ungkapan seperti “selamat tinggal tahun lama” atau “mari buka lembaran baru” berulang dari satu akun ke akun lain, masyarakat tampak memiliki sebuah ilusi kolektif seolah-olah pergantian tahun pada kalender memiliki kuasa simbolik untuk menutup kegagalan dan membuka harapan secara bersamaan.
Fenomena ini menarik bukan karena kebaruannya, melainkan karena konsistensinya. Setiap tahun, dengan format yang hampir sama, masyarakat kembali memperlakukan 1 Januari sebagai tanda titik nol, yakni sebuah momentum yang dianggap sah untuk berhenti, merefleksikan diri, dan menjanjikan perubahan.
Pertanyaan menarik yang bisa diajukan atas ilusi ini adalah: Mengapa momentum perubahan perlu menunggu tanggal tertentu agar terasa valid?
Resolusi tahun baru bekerja sebagai mekanisme sosial sekaligus psikologis. Ia menawarkan ilusi keteraturan di tengah kehidupan yang kompleks. Dalam satu malam, individu diharapkan mampu mengarsipkan kegagalan masa lalu dan menyusun versi diri yang lebih baik. Bisa jadi lebih produktif, lebih sehat, juga bahkan lebih seimbang.
Optimisme dirayakan seperti kembang api, meledak dan melimpah ruah. Bahkan sering kali optimisme diharapkan kehadirannya tanpa adanya refleksi yang memadai tentang sebab (root analysis) dari kegagalan itu sendiri.
Padahal, mengakui kegagalan bukan perkara sederhana. Relasi yang retak, keputusan karier yang tidak berjalan sesuai rencana, kelelahan emosional yang menumpuk, semua hal tersebut tidak serta-merta bisa diselesaikan dengan daftar resolusi. Dalam banyak kasus, resolusi malah diilusikan sebagai kompensasi moral: sebuah cara untuk merasa “sudah berusaha”, meski tanpa adanya perubahan struktural dalam keseharian.
Tidak mengherankan jika resolusi yang muncul cenderung berulang dari tahun ke tahun. Hidup sehat, manajemen waktu, keseimbangan hidup, dan perbaikan diri menjadi mantra tahunan yang jarang benar-benar berubah bentuk. Resolusi ibarat asap dupa yang mengepal kelangit lalu hilang, atau doa malam sebelum tidur yang diketahui tapi terlalu lelah untuk dilafalkan.
Di titik ini, skeptisisme terhadap resolusi menjadi sikap yang rasional. Banyak orang belajar, dari pengalaman, bahwa niat baik tidak selalu cukup untuk melawan kebiasaan, tuntutan ekonomi, dan tekanan sosial yang nyata.
Namun, memandang tahun yang berlalu semata-mata sebagai daftar kegagalan juga merupakan penyederhanaan. Ada pengalaman-pengalaman kecil yang sering luput dari evaluasi: rutinitas sederhana yang pernah membuat hidup terasa lebih terkendali, hubungan yang sempat memberi rasa aman, atau jeda singkat yang memungkinkan kita bernapas di tengah kesibukan. Ironisnya, hal-hal inilah yang sering tidak masuk ke dalam daftar resolusi, karena dianggap terlalu sepele untuk dirayakan.
Jika harus melihat dari sudut pandang personal, bisa dikatakan bahwa kesadaran ini justru terasa semakin relevan. Banyak kebahagiaan kecil dalam hidup yang pernah hadir, namun tidak bertahan, bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak dijaga. Bahkan malam pergantian tahun pun tidak selalu diisi dengan perayaan. Sebagian orang memaknai tahun baru hanyalah sebagai hari kerja lain, di mana kembang api lebih terasa sebagai gangguan daripada simbol harapan.
Di tengah euforia kembang api, pesta, dan promosi akhir tahun, terdapat ironi yang jarang disorot: malam yang dirayakan sebagai simbol kelahiran kembali juga merupakan malam kelelahan bagi banyak pekerja informal, petugas kebersihan, hingga beberapa bagian dari layanan publik.
Ketika perayaan usai, yang tersisa sering kali bukan hanya kenangan, tetapi juga jejak material berupa sampah dan limbah kembang api hingga wadah makanan minuman. Ia menjadi metafora yang nyaris terlalu tepat: resolusi dirayakan secara meriah, tetapi malah justru bertentangan dengan konsep berkelanjutan. Sebuah lawakan setiap akhir dan awal tahun.
Perubahan tidak selalu membutuhkan momen simbolik. Ia lebih sering lahir dari kesadaran yang berulang, penerimaan atas masa lalu, dan upaya konsisten merawat hal-hal yang kita cintai dan sayangi, bahkan ketika kalender tidak memberikan penanda apa pun.

