Belakangan ini, sinema menghadirkan deretan film penyutradaraan para aktor yang memperluas perannya ke belakang layar. Lewat kerja kolaboratif dengan tim kreatif, film-film ini menawarkan sajian visual yang tak kalah meyakinkan dari karya para sutradara kawakan.
Mulai dari Kristo Imanuel, hingga Reza Rahadian, karya-karya ini hadir sebagai penanda langkah awal mereka di balik kamera sekaligus undangan bagi penonton untuk menyimak bagaimana perspektif aktor diterjemahkan menjadi bahasa film.
Reza Rahadian – Pangku (2025)

Sebelum rilis pada 6 November 2025, Pangku berhasil menyabet penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) di September akhir tahun yang sama. Melalui riset langsung ke Pantura dan menggandeng Claresta Taufan sebagai bintang utama, Pangku bercerita soal ibu tunggal yang banting tulang untuk menyambung hidup. Reza mengaku bahwa karya ini begitu dekat dengan kehidupan personalnya, terutama mengangkat kisah seorang ibu tunggal yang berjuang demi sang anak.
Kristo Imanuel – Tinggal Meninggal (2025)

Lewat Tinggal Meninggal, Kristo Imanuel menandai debutnya sebagai sutradara film panjang dengan pendekatan yang personal sekaligus reflektif. Film ini berangkat dari kegelisahan sehari-hari tentang kehilangan dan cara manusia memproses duka, dibalut dengan narasi yang intim dan minim dramatik berlebihan. Dikenal lewat persona komedi dan aktingnya, Kristo justru membangun cerita melalui detail emosi, ritme yang tenang, serta observasi terhadap relasi antarmanusia yang rapuh namun jujur.
Iko Uwais – Timur (2025)

Melalui Timur, Iko Uwais melebarkan perannya ke belakang layar dengan tetap membawa sensibilitas yang lekat pada kariernya sebagai aktor laga. Film ini tidak hanya mengandalkan koreografi aksi, tetapi juga menghadirkan lanskap Timur Indonesia sebagai ruang dramatik yang kuat.
Berangkat dari riset lapangan dan keterlibatan intens dengan tim kreatif, Timur memadukan ketegangan fisik dengan muatan emosional tentang loyalitas, konflik, dan identitas. Debut ini memperlihatkan upaya Iko untuk menerjemahkan pengalaman tubuh dan aksi ke dalam visi penyutradaraan yang lebih utuh.
Ryan Adriandhy – Jumbo (2025)

Lewat Jumbo, Ryan Adriandhy menapaki debut penyutradaraannya dengan pendekatan yang berangkat dari kepekaan komedi dan pengamatan sosial. Film ini mengolah cerita keseharian dengan ritme ringan namun terukur, memadukan humor dengan lapisan emosi yang dekat dengan pengalaman penonton.
Dikenal sebagai komika dan aktor, Ryan menerjemahkan timing komedi ke dalam bahasa visual yang rapi, menjadikan Jumbo sebagai debut yang menonjolkan kecermatan bercerita sekaligus keberanian mengelola film panjang.
Baim Wong – Lembayung (2024)

Melalui Lembayung, Baim Wong menjalani debutnya sebagai sutradara film panjang dengan memilih jalur horor sebagai medium eksplorasi. Film ini memanfaatkan atmosfer dan permainan visual untuk membangun ketegangan, alih-alih mengandalkan kejutan semata.
Dengan dukungan tim kreatif yang solid, Lembayung menunjukkan upaya Baim dalam meramu pengalaman aktingnya menjadi kontrol ritme, suasana, dan emosi penonton di balik kamera, sebuah langkah awal yang menandai pergeseran perannya dalam lanskap sinema populer.
Deretan film debut ini menunjukkan bahwa peralihan aktor ke kursi sutradara bukan sekadar soal perluasan peran, melainkan juga upaya merumuskan sudut pandang kreatif yang lebih personal dan berlapis. Dengan latar belakang akting yang kuat, para aktor tersebut membawa sensibilitas emosional, pemahaman karakter, serta pengalaman tubuh dan ritme ke dalam bahasa sinema yang mereka bangun sendiri.
Hasilnya bukan hanya karya yang layak bersaing secara visual dan naratif, tetapi juga membuka ruang baru bagi eksplorasi cerita yang lebih intim, reflektif, maupun berakar pada realitas sosial. Debut-debut ini, pada akhirnya, menjadi penanda bahwa sinema Indonesia terus bergerak dinamis, memberi tempat bagi perspektif segar yang lahir dari lintas peran dan keberanian bereksperimen.

