Categories Kultura

Wayang Wahyu sebagai Medium Pewartaan Iman

Budaya Jawa memiliki keterikatan yang kuat dengan kesenian wayang, baik wayang kulit, wayang golek, maupun wayang orang.

Sejak awal kemunculannya, wayang berkembang dalam konteks kepercayaan Hindu–Buddha dan berfungsi sebagai medium penyampaian ajaran agama sekaligus nilai-nilai moral. Karena itu, kisah-kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata kemudian menjadi lakon yang paling dominan dan populer dalam tradisi pewayangan Jawa.

Namun, kebudayaan tidak pernah bersifat statis. Seiring perubahan zaman dan masuknya berbagai tradisi keagamaan, wayang pun mengalami proses adaptasi dan reinterpretasi. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah lahirnya Wayang Wahyu, sebuah bentuk pewayangan yang berakar pada tradisi Katolik dan mulai dikenal pada Oktober 1957. Wayang Wahyu pertama kali dipentaskan oleh seorang guru dari Sekolah Guru Bantu II Surakarta melalui lakon Dawud Mendapat Wahyu Keraton, yang mengisahkan peristiwa pemilihan Daud sebagai raja, sebagaimana tercatat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.

Wayang Wahyu. Courtesy of Museum Sonobudoyo.

Dilansir dari Pena Katolik, ide berkembangnya Wayang Wahyu ini diprakarsai oleh seorang Bruder Timotheus L. Wignjosoebroto. Br. Wignjo membentuk panitia yang bertugas untuk menentukan bentuk-bentuk wayang yang akan diproduksi. Namun, karena menjadi seorang pemuka agama Katolik dalam pengajaran yang ketat dan menganut sistem hierarki, Br. Wignjo lantas melibatkan tiga orang Romo untuk menjadi penasihat.

Setelah melalui masa perencanaan yang cukup panjang, Wayang Wahyu secara resmi dipentaskan pada 2 Februari 1960 di Gedung Sekolah Kejuruan Kepandaian Puteri, Purbayan, Solo. Pentas perdana ini menampilkan sejumlah lakon utama yang merepresentasikan kisah fundamental dalam iman Kristiani, seperti Kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Malaikat Mbalela, dan Manusia Pertama Jatuh dalam Dosa. Pementasan tersebut menandai babak baru dalam sejarah pewayangan Jawa, di mana narasi Kitab Suci mulai dihadirkan melalui medium tradisional.

Umat Katolik begitu antusias menyambut kelahiran Wayang Wahyu ini. Setelah pentas debut, Wayang Wahyu pun mendapat kesempatan untuk tampil di depan Vikariat Apostolik Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Wayang Wahyu mendapat sambutan baik dan apresiasi atas ide pewartaan melalui wayang. Lalu, Mgr. Soegijapranata pun menyarankan agar Wayang Wahyu diperbaiki sebelum mendapatkan Imprimatur dari Gereja.

Wayang Wahyu. Courtesy of Kompas Regional.

Seiring proses pengembangan tersebut, Wayang Wahyu mengalami berbagai penyesuaian teknis dan artistik. Bahan wayang yang semula terbuat dari karton kemudian diganti dengan kulit agar lebih mendekati estetika wayang tradisional. Selain itu, durasi pertunjukan disesuaikan agar lebih efektif dan komunikatif, tanpa mengurangi substansi pesan yang disampaikan. Sejak saat itu, Wayang Wahyu mulai rutin dipentaskan dalam berbagai perayaan liturgis besar, seperti Natal dan Paskah.

Kehadiran Wayang Wahyu menegaskan bahwa pewartaan iman tidak harus hadir dalam bentuk yang kaku dan eksklusif. Melalui dialog kreatif dengan kebudayaan lokal, ajaran iman justru dapat disampaikan secara lebih membumi, komunikatif, dan relevan dengan konteks masyarakat. Wayang Wahyu bukan sekadar adaptasi kesenian Jawa ke dalam tradisi Katolik, melainkan bukti bahwa iman dan budaya dapat saling memperkaya tanpa harus saling meniadakan. Dalam dinamika tersebut, wayang kembali pada fungsinya yang paling awal: menjadi jembatan nilai, makna, dan pengharapan bagi manusia.

Written By

Petricia Putri Marricy

A Dullahan (Senior Writer) at Monster Journal.
A woman issue enthusiasts and a fan of Angelina Jolie and Keigo Higashino.
Currently a student at English Literature department and soon to be a graduate.
(petriciamarricy@gmail.com)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like