Akhir tahun hampir selalu identik dengan Natal dan diskon besar-besaran. Sejak Oktober atau November, banyak toko lokal hingga brand-brand besar internasional sudah mulai memasang iklan bertema liburan dan Natal secara agresif.
Fenomena ini terjadi karena adanya kecenderungan peningkatan aktivitas jual beli menjelang akhir tahun yang sudah melekat di masyarakat dalam budaya modern.
Fenomena Christmas Creep yang berarti munculnya dekorasi, iklan hingga produk bertema Natal yang muncul lebih awal berhasil menciptakan paparan konsumen yang lebih besar.
Dari Perayaan Religius Ke Budaya Modern
Secara historis, Natal adalah perayaan kelahiran Yesus Kristus yang diperingati setiap tanggal 25 Desember sejak abad ke-4 Masehi. Penetapan ini tidak lepas dari konteks budaya yang berhubungan dengan festival musim dingin Romawi yang disebut Saturnalia. Perayaan ini juga mengutamakan kebersamaan hingga pertukaran hadiah yang tidak jauh dari yang kita lakukan sekarang.
Seiring penyebaran Kekristenan ke Eropa dan Amerika, Natal berkembang dengan simbol-simbol yang relatif universal seperti pohon natal, hadiah hingga figur Santa Claus. Fenomena ini semakin menguat di akhir abad 19, terutama dalam industri hiburan Amerika Serikat dan Inggris.
Santa Claus sendiri berakar dari legenda Saint Nicholas yang kemudian berkembag melalui tradisi Eropa seperti Sinterklaas. Citra modern Santa yang ceria dengan pakaian merah-putih menguat secara global lewat kampanye iklan Coca-Cola sejak tahun 1931. Lewat pengulangan visual dan narasi, Coca-Cola menstandarkan representasi Santa sebagai simbol Natal populer yang hingga kini masih melekat di publik.
Konsumsi yang Terbentuk dari Budaya Populer
Film, iklan, musik hingga media sosial secara konsisten menampilkan natal sebagai momen yang hangat, menenangkan dan perayaan yang meriah. Representasi ini gambaran ideal tentang bagaimana Natal seharusnya terlihat dan dirasakan, lalu secara tidak langsung mendorong banyak orang untuk menyesuaikan dengan gambaran yang disajikan.
Home Alone (1990), A Christmas Story (1983), hingga The Polar Express (2004) menjadi ritual tahunan selama Natal maupun libur akhir tahun. Pembentukan suasana serupa juga terjadi dalam dunia periklanan dan musik populer.
Kampanye ‘Holidays Are Coming’ dari Coca-Cola secara konsisten hadir sebagai penanda dimulainya musim Natal. Sementara lagu ‘All I Want for Christmas Is You’ karya Mariah Carey kembali mendominasi radio dan layanan streaming setiap Desember. Forbes memperkirakan bahwa lagu ini menghasilkan $2,5-3 juta per tahunnya dengan total pendapatan $60 juta sejak dirilis tahun 1994.
Tren Perilaku Konsumen Selama Natal dan Tahun Baru
Tren perilaku konsumen selama periode Natal dan Tahun Baru menunjukkan peningkatan signifikan pada sektor perjalanan dan akomodasi global. Pola ini terlihat jelas melalui data pemesanan hotel dan penerbangan internasional yang mengalami kenaikan tajam menjelang puncak liburan akhir tahun.
Data SiteMinder mencatat terjadi peningkatan reservasi untuk periode 21-25 Desember dengan Australia dan Jerman memimpin dengan angka 21% dan 43% dibanding tahun sebelumnya. Begitu juga dengan kenaikan pemesanan penerbangan internasional dengan Australia 20%, Indonesia 26% dan Amerika Serikat 15%.
Selain dari penerbangan, perilaku konsumen dalam menginap juga mengalami kenaikan rata-rata, seperti Inggris dari 1,98 menjadi 2,10 hari dan Australia dari 2,23 menjadi 2,25 hari. Sydney dan London juga mencatat peningkatan pada pemesanan hotel yang signifikan dengan angka Sydney 23% dan London 13%
Meski terlihat moderat, peningkatan ini menunjukkan kecenderungan konsumen untuk memperpanjang masa liburan dan meningkatkan pengeluaran selama periode perayaan. Kenaikan rata-rata lama menginap, pemesanan hotel serta lonjakan penerbangan lintas negara mencerminkan meningkatnya kepercayaan konsumen dalam merencanakan perjalanan dan mengalokasikan dana khusus untuk Natal.
Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa Natal secara konsisten masih menjadi periode puncak perjalanan, liburan dan konsumsi global. Lebih dari sekedar perayaan religius, Natal telah berkembang menjadi momen konsumsi kolektif yang berulang, membentuk pola perilaku wisata yang relatif stabil di beberapa negara.
Source: Salesforce, Britannica, Mckinsey, Accomnews

