Categories CineMonster Feature

Eksplorasi Yorgos Lanthimos dalam Mengkritik Realitas Sosial melalui Film Absurd

Sepanjang kariernya, Yorgos Lanthimos telah menciptakan berbagai karya sebagai media refleksi akan realitas sosial.  Melalui fotografi, teater, dan film, ia menunjukkan absurditas antara manusia dan dunia yang dirasakannya melalui karya-karya bernuansa ganjil hingga membangun rasa tidak nyaman namun menyentuh bagi para penontonnya.

Keahlian dan ciri khas dari karya-karyanya tersebut menjadikan karyanya banyak diminati, terutama dalam bentuk film, hingga meraih penghargaan-penghargaan tinggi seperti Golden Lion, Golden Globes for Best Film, British Academy Film Awards (BAFTAs), Academy Award pada Oscars. Selain itu beberapa filmnya berkesempatan untuk tayang perdana pada festival film ternama seperti 77th Cannes Film Festival dan 82nd Venice Film Festival.

Secara konsisten, terutama dalam tiga tahun terakhir, Yorgos Lanthimos memproduksi film yang mencerminkan pemikiran-pemikiran liarnya, seperti Poor Things (2023), Kinds of Kindness (2024), dan Bugonia (2025). Meskipun konflik yang diangkat pada film-filmnya cenderung familiar dan disadari oleh kebanyakan orang, namun Yorgos Lanthimos dapat mengungkit permasalahan tersebut secara lebih mendalam dengan balutan film-film absurd. Cerita, pembangunan dunia, serta visualisasi aneh, menjadi senjatanya dalam mengekspresikan kritik terhadap sistem yang diciptakan manusia, serta mengungkapkan hasil observasinya akan perasaan dan pola pikir manusia yang seringkali bersifat destruktif. 

Poor Things (2023). Courtesy to Architecture Now.
Keunikan utama yang barangkali menjadi alasan utama banyak orang menggemari karyanya, adalah cara Yorgos Lanthimos memunculkan absurdisme dalam keseluruhan filmnya, sehingga penonton merasakan ketegangan dan aliran adrenalin yang kencang dari awal hingga akhir cerita. 

Keanehan tindak-tanduk karakter serta permainan alur cerita membuat film-film yang disutradarainya memunculkan rasa merinding akan misteri yang tersembunyi dan penuh teka-teki. Menariknya, keabsurdan karakter yang ditampilkan tidak lain lahir dari kompleksitas perasaan dan pola pikir manusia biasa yang ikut mengombang-ambingkan perasaan dan pikiran penontonnya. 

Contohnya dalam film Kinds of Kindness yang memiliki bentuk seperti antologi tiga cerita pendek, disajikan tiga cerita yang masing-masing menunjukkan betapa perasaan paling kuat manusia – yakni ingin dicintai dan takut dijauhi oleh seseorang yang penting baginya – dapat menjadi penyebab dari tindakan-tindakan destruktif. Dalam film tersebut, tindakan ekstrem manusia yang seringkali membingungkan bagi kebanyakan orang dibedah secara cermat, sehingga memunculkan pemahaman bahwa seringkali alasan dari tindakan-tindakan mengerikan yang dilakukan adalah karena perasaan kuat dalam diri manusia. 

Misalnya dalam Kind of Kindness, dalam cerita pertama terdapat tokoh Robert (Jesse Plemons) yang membunuh orang demi dapat terus diperhatikan oleh Raymond (Willem Dafoe). Kemudian cerita kedua terdapat Liz (Emma Stone) yang rela merusak dirinya demi memenuhi keinginan Daniel (Jesse Plemons). Terakhir cerita ketiga mengenai Emily (Emma Stone) yang terobsesi untuk menemukan mukjizat demi diterima kembali oleh komunitas sucinya.

Kinds of Kindness (2024). Courtesy of No Film School.
Selain kompleksitas karakter, Yorgos Lanthimos terlihat jeli dalam mengeksplorasi elemen-elemen pembentuk film – yaitu audio dan visual – hingga menjadikannya satu keutuhan karya yang memanjakan indera. 

Keindahan dan keabsurdan visual dunia, serta penggunaan beberapa backsound eksperimental, merupakan dua elemen yang sangat krusial dalam membuat penontonnya tersentuh dan mengalami pengalaman menyaksikan yang tidak biasa. Contohnya seperti dalam film Poor Things, bentuk dunia dan warna-warna absurd menjadi kunci dalam membuat penonton semakin merasakan dan memahami cara pandang Bella Baxter (Emma Stone) tentang dunia dengan perasaan semakin masuk ke dalam dunia karakternya. 

Begitupun pemilihan angle dan objek sorotan, terutama saat adegan-adegan gore serta adegan seksual, pada film-filmnya dapat terlihat bahwa kedua jenis adegan tersebut bagi Yorgos Lanthimos adalah sesuatu yang esensial sehingga perlu dieksekusi dan ditampilkan secara apa adanya. Hal ini tampak seperti dalam Poor Things, Kinds of Kindness, dan Bugonia. Tidak adanya glorifikasi maupun hiperbola dalam visualisasi kedua hal tersebut menjadikan filmnya terasa begitu mentah sekaligus segar dalam menampilkan keseluruhan cerita secara tidak dihalang-halangi ataupun dilebih-lebihkan. 

Ada pun soundtrack pada film-film Yorgos Lanthimos memiliki pengaruh yang signifikan dalam memainkan perasaan penonton. Nada, suara, serta alat-alat yang digunakan untuk menciptakan keseluruhan soundtrack dikomposisi dengan begitu cermat untuk menciptakan audio-audio yang terdengar ganjil. Kecenderungan soundtrack yang antara berintonasi rendah-berat atau tinggi-melengking disertai komposisi nada yang melankolis, atau sumber suara eksperimental seperti suara lalat dan lebah, menimbulkan sensasi merinding dan mendorong penonton lebih hanyut-masuk ke dalam dunia film tersebut.

Bugonia (2025). Courtesy of LA Times.
Melalui film surealismenya yang menggunakan elemen-elemen bersifat eksperimental, Yorgos Lanthimos benar-benar menjadikan film sebagai sebuah karya untuk eskapisme sekaligus menyadarkan penonton akan permasalahan realitas sosial yang sering ataupun jarang diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Film-film yang ia ciptakan mampu memainkan baik imajinasi maupun emosi penonton, serta memutar pola pikir dan cara pandang terhadap manusia sebagai suatu makhluk kompleks yang penuh kasih namun dapat begitu mengerikan. Dengan alur cerita serta karakter yang penuh teka-teki, Yorgos Lanthimos mengajak penonton untuk menikmati karyanya sebagai sebuah karya fiksi yang bersifat segar, namun memaksa penonton berefleksi pula akan dirinya sendiri serta lingkungannya yang seringkali bersifat destruktif.

Susan Humeri Siburian

IG: @ssan_o2

Email: ofoggym0rning@gmail.com

Written By

The Monster Army

The Monster Army (Junior Writer Interns) at Monster Journal.
The force behind the steady growth of Monster Journal and currently undergo a training and mentoring under the Editors of Monster Journal.
Most of the writers are students in high-school, university, and even fresh graduates.

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
figurativehub.com
figurativehub.com
6 days ago

Great article, very helpful!

You May Also Like