
Membawakan genre anti-mainstream untuk industri film Indonesia, Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon beradu akting sebagai pasangan pemeran utama dalam film Dopamin (2025).
Dopamin menceritakan tentang kehidupan sepasang suami-istri, Alya (Shenina Cinnamon) dan Malik (Angga Yunanda), yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Di umur pernikahan yang hampir menginjak tiga tahun, mereka terjerat begitu banyak utang.

Film dibuka oleh dialog antara Malik dengan seseorang di telepon yang membicarakan tunggakan utang Malik. Pada hari yang sama, saat Malik melakukan wawancara kerja, mobilnya bermasalah di jalan pulang dan orang tidak dikenal berniat membantu dengan mengantarnya pulang. Namun, karena cuaca di luar sedang hujan, Malik dan Alya menawarkan orang itu untuk menginap semalam di rumah mereka. Keesokan harinya, orang tersebut ditemukan tewas di dalam kamar dengan koper berisi tumpukan uang di sampingnya.
Bercermin dari judulnya, film ini benar-benar memberi penggambaran reaksi dopamin pada tubuh manusia melalui karakter Malik dan Alya. Hormon dopamin sendiri memberikan efek pada perasaan senang dan kepuasan tertentu, juga memiliki peran dalam mengatur perilaku. Demikianlah film ini seolah ingin menonjolkan dopamin pada karakter Malik dan Alya.
Film yang disutradarai Teddy Soeria Atmadja ini berhasil mengeksekusi konsep dopamin saat Malik berpikir bahwa uang tersebut bisa menjadi milik mereka. Meski Alya sempat menolak karena dianggap merampok, mereka akhirnya menjalankan misi bersama untuk menghilangkan segala jejak orang tidak dikenal itu dan mengambil uangnya. Pada akhirnya, Alya juga yang merasa kalap pada uang tersebut.

Akting yang disuguhkan oleh Angga dan Shenina mampu membawa penonton masuk ke dalam ketegangan yang sedang dialami. Berperan sebagai amatiran yang bertindak secara impulsif, segala gerak-gerik mereka penuh dengan keraguan dan rasa takut akan dicurigai karena sedang menyembunyikan sesuatu.
Selain itu, sinematografi film ini turut mendukung pembangunan suasana menegangkan melalui camera work dan scoring. Pengambilan video close-up saat adegan tegang menimbulkan efek tahan napas bagi penonton.
Sayangnya, pemilihan beberapa soundtrack rasanya kurang tepat dan sedikit memaksa. Kemunculan lagu “Dance, Habibi” oleh Ali saat Malik dan Alya berusaha untuk memindahkan mayat ke dalam mobil terasa sangat kontras dan tidak sesuai dengan keadaan. Berbeda dengan lagu “everything u are” oleh Hindia yang meski juga kurang pas secara genre, tetapi peletakannya pada adegan-adegan cepat (fast cut) mampu menyalurkan euphoria yang dirasakan oleh Malik dan Alya.

Melalui film ini, genre romantic survival drama membawa warna baru bagi industri perfilman Indonesia. Meski masih memiliki beberapa kekosongan dalam plotnya, film ini berhasil dieksekusi dengan akting ciamik dua pemeran utamanya.
Film ini menampilkan realitas natural dari potret pasangan Malik dan Alya yang tergoda pada kekayaan instan karena telah lama dibelenggu kemiskinan. Hingga akhir film, Malik benar-benar menepati janjinya untuk terus bersama Alya meski dihadapkan dengan berbagai rintangan akibat tindakan impulsif mereka sendiri.
Our Score:8/10
Judul: Dopamin
Sutradara & Penulis: Teddy Soeria Atmadja
Rumah Produksi: Starvision & Karuna Pictures
Pemeran: Shenina Cinnamon, Angga Yunanda, Anjasmara, Teuku Rifnu.

