Categories Focus Opinion

Menelisik Ragam ldentitas Seksual dalam Narasi Film-Film Indonesia

Jika ditelusuri cukup jauh, Indonesia menariknya memiliki cukup banyak film yang menyampaikan wacana ragam identitas seksual dalam berbagai perspektif dan pandangan. 

Setiap perbedaan narasi dalam film-film tersebut menunjukkan adanya berbagai pandangan masyarakat Indonesia mengenai identitas seksual atau yang kini lebih dikenal dengan istilah LGBTQ+ sejak tahun-tahun lampau. Isu ini menjadi sesuatu yang bukan menjadi bahan olok-olokan, melainkan untuk didiskusikan dan dibahas secara lebih serius.

Menurut American Social Health Association, LGBTQ+ adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, dan Queer / Questioning. Sementara “+” melambangkan ragam identitas seksual lainnya.

Sejak zaman Orde Baru (1966-1998) LGBTQ+ dalam film-film Indonesia muncul dengan tujuan-tujuan tertentu. Menurut salah satu tulisan dalam South China Morning Post, diketahui bahwa pada masa Orde Baru pemberlakuan sensor terhadap media yang ketat juga diarahkan pada narasi LGBTQ+. 

Pada masa tersebut, tokoh LGBTQ+ seringkali ditampilkan tanpa diidentifikasikan sebagai LGBTQ+. Mereka cenderung ditampilkan sebagai tokoh yang ‘unik’ dan ‘lucu’ untuk menjadi bahan tertawaan utamanya dalam film komedi.

Contoh jenis tokoh yang populer yakni tokoh yang kerap disebut ‘bencong’ atau ‘waria’ seperti dalam film Betty Bencong Slebor (1978). Film yang disutradarai oleh Benyamin Suaeb ini menceritakan seorang waria bernama Betty yang dipekerjakan oleh seorang majikan perempuan (Aminah Cendrakasih). 

Alasan perempuan itu mempekerjakannya yakni karena ia tahu suaminya, Bokir (Bokir), adalah seorang bermata keranjang. Dalam film, Betty seringkali jadi bahan tertawaan dengan adegan-adegan konyol seperti tragedi wig lepas, rok melorot, dan fisiknya yang merupakan laki-laki besar berpenampilan perempuan.

Di akhir film, Betty mengatakan bahwa alasannya berpenampilan perempuan adalah karena ia patah hati dan putus asa ketika menjadi laki-laki. Ketika mencoba menjadi seperti perempuan, ia pun semakin nyaman dan memutuskan terus menjadi seperti perempuan.

Meskipun Betty dinarasikan sebagai karakter ‘badut’, namun film juga menunjukkan bahwa orang seperti Betty tidak layak mendapat kekerasan. Ketika Betty kerap dihina oleh Bokir, sang majikan perempuan menegur suaminya itu. Ia bahkan mewajarkan Betty yang menginginkan peralatan kosmetik dan gaunnya. Begitu pula ketika Betty sedang dirundung oleh anak-anak yang menghina dirinya sebagai bencong, seorang ustaz datang untuk menegur anak-anak tersebut dan membantu Betty.

Setelah Betty Bonceng Slebor, cukup mengejutkan bahwa narasi LGBTQ+ dalam film Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan. 

Satu dekade setelah film Betty Bencong Slebor, muncul film yang cukup serius dalam menunjukkan permasalahan orang-orang LGBTQ+ dalam kehidupan sehari-hari, yakni Istana Kecantikan (1989).

Berdasarkan artikel dari SuaraKita, film Istana Kecantikan (1988) adalah film pertama yang mengangkat isu LGBTQ+ secara serius. Film karya Wahyu Sihombing ini mengisahkan Niko (Mathias Muchus), seorang laki-laki yang tahu dirinya gay namun dituntut menikah oleh orang tuanya untuk memberikan cucu. 

Sembari berkeluarga, Niko secara sembunyi-sembunyi berpacaran dengan lelaki lain. Namun akhirnya lelaki itu mengkhianati dia, berkata ingin menjadi ‘normal’ dan menikah dengan istri Niko. Rasa dikhianati dan kebencian Niko atas perilaku orang-orang yang selalu merendahkan dirinya akibat ia gay akhirnya memuncak. Ia pun secara tidak sengaja membunuh pacar lelakinya dan berakhir di penjara.

Pada tahun 1990an hingga 2000an, terlihat bahwa kehidupan tokoh LGBTQ+ dibawakan semakin serius. Selain Istana Kecantikan, ada pula film yang menceritakan perihal gender dan orientasi seksual lain seperti Tentang Dia (2005) dan Detik Terakhir (2005).

Kedua film tersebut memiliki protagonis perempuan homoseksual yang memiliki permasalahan hidup layaknya manusia lain. Tentang Dia mengisahkan seorang perempuan bernama Gadis (Sigi Wimala) yang berusaha move on dari mantan pacarnya yang menghamili sahabatnya. Sementara Detik Terakhir mengisahkan Regi (Cornelia Agatha) yang bergelut dengan kecanduannya akan narkoba bersama pasangannya, Vela (Sausan Machari).

Namun pada tahun 1990an hingga 2000an tersebut, dapat diamati adanya pola tertentu yang digunakan untuk melegalkan film dengan tokoh LGBTQ+. Pola tersebut yakni dengan mematikan pasangan protagonis.

Dalam Istana Kecantikan, Niko berakhir di penjara. Dalam Tentang Dia, perempuan yang menyukai dan paling peduli Gadis berakhir meninggal akibat tertabrak. Lalu dalam film Detik Terakhir, pasangan Regi – yakni Vela – berakhir membunuh dirinya sendiri akibat tidak kuat menghadapi kecanduannya akan narkoba dan penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome  (AIDS). 

Dapat dilihat bahwa pada era 1900an hingga 2000an, film-film di Indonesia mulai lebih menerima keberadaan LGBTQ+. Namun penerimaan tersebut disertai narasi bahwa perbedaan identitas seksual itu tidak akan berakhir bahagia.

Salah Bodi (2014). Courtesy of IDN Times Sumut.
Kemudian setelah tahun 2010, film-film menyangkut LGBTQ+ di Indonesia menunjukkan semakin beraninya masyarakat untuk menyuarakan ragam pandangannya. 

Pada tahun 2010an, terdapat berbagai narasi akan LGBTQ+ dalam bentuk film seperti Sanubari Jakarta (2012), Salah Bodi (2014), Pretty Boys (2019), Kucumbu Tubuh Indahku (2019), dan Dear David (2023).

Film Sanubari Jakarta dan Dear David menekankan sulitnya hidup dengan identitas gender dan orientasi seksual yang tidak umum. Para karakter LGBTQ+ dalam film tersebut ditunjukkan hidup dalam ketakutan untuk dapat mengekspresikan identitasnya.

Tidak hanya berfokus pada dunia modern, ada juga film Indonesia yang memperlihatkan pandangan identitas seksual dalam budaya masyarakat adat. Contohnya dalam film Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho. Dalam film tersebut, Garin Nugroho menunjukkan adanya ragam identitas seksual pada budaya Indonesia, seperti pada tari Lengger dan Reog Ponorogo. Juno (Muhammad Khan) yang menjadi protagonis, mengalami menjadi penari Lengger dan hendak dijadikan gemblak warok.

Menurut artikel “Meramu Gender dalam Tarian Lengger”, Lengger merupakan tarian adat dari Banyumas, Jawa Tengah, dimana penari adalah laki-laki yang didandani dan mesti bergerak gemulai layaknya perempuan. Tari ini menekankan bahwa dalam diri setiap manusia ada sisi feminin dan maskulin. Sementara pada makalah Intersections: Gender, History and Culture in the Asian Context dikatakan bahwa gemblak adalah sebutan bagi laki-laki yang menjadi ‘pasangan’ warok dalam budaya Reog Ponorogo. 

Pada BBC, dikatakan film Garin ini memperlihatkan dualisme gender dan hubungan sesama jenis ada dalam sejarah budaya Indonesia. Contohnya yakni tari Lengger dan budaya gemblak dalam Reog Ponorogo.

Selain perfilman yang mengakui ragam identitas seksual, terdapat pula beberapa film Indonesia kontemporer yang mempertanyakan dan memikirkan ulang mengenai LGBTQ+. Melalui film komedi atau pendekatan yang lebih halus dan serius, terlihat film seperti Pretty Boys dan Salah Bodi memiliki pandangan lain terhadap maraknya isu tersebut.

Pretty Boys mengisahkan dua orang laki-laki bernama Anugrah (Vincent Ryan Rompies) dan Rahmat (Deddy Mahendra Desta) yang ingin menjadi host dalam sebuah show besar. Akhirnya impian mereka terwujud, namun mereka mesti berpenampilan dan berperilaku layaknya ‘bencong’ untuk menarik audience. Dalam Pretty Boys, ada pemisah sifat antara perempuan dan laki-laki yang hendak disampaikan. Perempuan normalnya feminin, dan laki-laki semestinya maskulin. Penampilan atau sifat yang menyeberang berarti adalah sesuatu yang aneh dan patut menjadi bahan tertawaan. Selain itu, sifat menyeberang tersebut juga bertentangan dengan kodrat yang diberikan Tuhan.

Sifat yang menyimpang dari kodrat juga disinggung dalam film Salah Bodi yang disutradai oleh Sys NS. Diceritakan seorang transpria bernama Farhan (Zhi Alatas) yang menikah dengan transpuan bernama Inong (Miqdad Addausy). Setelah menikah, Farhan pun hamil karena ialah yang memiliki organ reproduksi perempuan. Karena kesulitan jika Farhan menjadi ayah yang memiliki organ reproduksi perempuan, sementara Inong menjadi ibu yang tidak memiliki organ reproduksi perempuan, mereka pun akhirnya menyadari sesuatu. Mereka tidak sepantasnya menyalahi kodrat Tuhan. Akhirnya Farhan memutuskan kembali menjadi perempuan, sementara Inong menjadi lelaki.

Dalam film seperti Salah Bodi, tampak bahwa dalam beberapa film kontemporer di Indonesia ada pula narasi yang menyatakan bahwa identitas seksual dapat diubah. Setiap manusia pada dasarnya hanya perlu menerima diri secara kodrat yang telah diberikan Sang Pencipta.

Berdasarkan film-film dengan unsur LGBTQ+ yang telah beredar selama ini, dapat dilihat bahwa dunia perfilman Indonesia semakin serius menyikapi isu tersebut. Perbedaan ekspresi identitas dan orientasi seksual tidak menjadi bumbu bahan tertawaan, melainkan sesuatu yang dibahas secara mendalam.

Semakin maraknya film-film yang membahas isu sensitif seperti LGBTQ+ di Indonesia menandakan bahwa keberanian dan kebebasan berekspresi mengenai permasalahan tersebut semakin terbuka. 

Setiap wacana yang diberikan melalui berbagai film ini berkontribusi dalam menambah pengetahuan tentang berbagai keresahan, teori, dan pandangan akan ragam identitas seksual. Dengan begitu isu yang cukup banyak dialami oleh orang-orang ini semakin banyak dapat didiskusikan dan tidak terhalang dengan sebutan ‘tabu’.

Susan Humeri Siburian

IG: @ssan_o2

Email: ofoggym0rning@gmail.com

Written By

The Monster Army

The Monster Army (Junior Writer Interns) at Monster Journal.
The force behind the steady growth of Monster Journal and currently undergo a training and mentoring under the Editors of Monster Journal.
Most of the writers are students in high-school, university, and even fresh graduates.

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

You May Also Like