Categories Film Review

Sewu Dino: Film yang Gak Ada Dinosaurusnya

Setelah sukses dengan KKN di Desa Penari (2022) yang berhasil mengumpulkan lebih dari 10 juta penonton, MD Pictures kembali memproduksi film horor yang masih merupakan adaptasi dari thread Twitter buatan SimpleMan. Film ini digarap oleh Kimo Stamboel yang terkenal sebagai sutradara spesialis horor.

Film Sewu Dino mengisahkan tentang seorang perempuan muda bernama Sri (Mikha Tambayong) yang tengah mengalami kesulitan ekonomi. Sri ingin membantu keuangan keluarganya sehingga pada suatu hari ia melamar pekerjaan di agen penyalur asisten rumah tangga. Sri pun akhirnya lolos proses seleksi dan dirinya harus bekerja untuk keluarga Atmojo.

Namun ternyata, pekerjaan Sri tidaklah mudah. Sri harus menjaga Della (Gisellma Firmansyah), anak keluarga Atmojo yang sakit keras karena terkena santet seribu hari. Pemilihan Sri sebagai asisten rumah tangga keluarga Atmojo bukan tanpa alasan. Hari kelahiran Sri ada hubungannya dengan ritual pembersihan santet yang ada pada diri Della.

Meskipun sama-sama hasil adaptasi dari thread SimpleMan, film Sewu Dino cukup berbeda dengan film KKN di Desa Penari. Film ini termasuk tipikal film slow burn alias pengembangan konfliknya cukup lama. Berdurasi 2 jam, paruh pertama film ini terasa sangat membosankan akibat jalan ceritanya yang lambat berkembang dan kurang exciting

Konsep penceritaan yang cukup lama sebenarnya memiliki tujuan untuk menceritakan detail ceritanya agar penonton mampu mengerti setiap detail element yang dihadirkan oleh film ini. Hal-hal yang berkaitan dengan ritual untuk Della Atmojo dari awal hingga akhir filmnya dijelaskan secara perlahan. Bisa diakui, penceritaan pada film ini lebih baik dari film pendahulunya karena tidak berusaha untuk dibuat sama persis seperti runtutan pada thread twitter-nya. Banyak hal yang tampaknya sengaja diubah antara versi film dengan versi tulisannya. 

Bagi penonton yang membaca thread-nya, kemungkinan akan menemukan miss di beberapa bagian, terasa seperti kurang detail. Rasanya sedikit mengganjal tapi tidak mengganggu sampai membuat plot hole. Sedangkan untuk yang tidak membaca thread-nya, hal ini jelas tidak akan terlihat.

Courtesy of MD Pictures

Memiliki plot cerita yang sederhana dan lebih to-the-point dibandingkan dengan KKN di Desa Penari, perpotongan adegan yang kurang smooth tidak banyak ditemui di sini. Namun di sisi lain, tidak ada banyak perpindahan untuk latar tempat cerita, jadi terasa monoton.

Elemen horor pada film Sewu Dino juga bisa dibilang lebih baik daripada KKN di Desa Penari. Film ini memperlihatkan atmosfer horor untuk membangun suasana menegangkan ke para penonton dan mengandalkan jumpscare serta gore yang memang sudah menjadi ciri khas dari seorang Kimo Stamboel.

Namun sayangnya scoring dan sound effect yang alih-alih memberikan sensasi horor dan untuk mendukung jumpscare yang dapat membuat penonton kaget, malah jadi mengganggu dan memekakkan telinga. Akan lebih baik jika musik yang digunakan adalah musik gamelan karena sesuai dengan latar pada film ini, sama seperti KKN di Desa Penari yang mengambil latar tempat di daerah Jawa. Selain itu, gore yang disajikan pun terasa seperti film horor biasa dan tidak cukup ‘gila’ untuk disandingkan dengan film horor Kimo Stamboel lainnya. Tentunya penonton mengharapkan lebih dari film garapan sutradara terkenal yang satu ini. 

Akting para pemain yang cukup bagus pun sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik. Penggambaran beberapa karakter yang tidak sesuai dengan thread dan kurang mendetail, menghilangkan potensi karakter tersebut untuk menjadi sosok yang menonjol. Menurut saya, ada beberapa karakter yang memiliki potensi tapi tidak dimaksimalkan jadi kehadirannya hanya sekedar lewat saja seperti Sugik (Rio Dewanto) dan Mbah Tamin (Pritt Timothy). 

Bicara tentang unsur lain dalam film ini, ada yang paling mengganggu dan hal tersebut sudah jelas pemilihan dialognya. Bisa dibilang lebih buruk dari KKN di Desa Penari, porsi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia yang bercampur membuat penonton menahan gelak tawa. Padahal tidak ada salahnya jika di beberapa adegan menggunakan bahasa Jawa sepenuhnya tanpa harus memaksakan mencampur kedua bahasa.

Meskipun masih memiliki banyak kekurangan, Kimo Stamboel sudah cukup berani untuk membuat konsep berceritanya menjadi berbeda dari versi tulisannya. Alhasil, film ini menjadi film yang cukup layak untuk ditonton dan masih tetap enjoyable. Tidak menembus ekspektasi tetapi sudah menjadi adaptasi yang lebih baik dari pendahulunya.

Our score: 6.0/10

Judul: Sewu Dino
Produksi: MD Pictures
Sutradara: Kimo Stamboel
Cerita: Agasyah Karim, Khalid Khasogi
Pemeran: Mikha Tambayong, Gisellma Firmansyah, Rio Dewanto, Marthino Lio, Givina Lukita Dewi, Agla Artalidia
Pritt Timothy, Karina Suwandi

Muhammad Mahardika Putra Zaeni

Instagram: @mahardikazaeni

Email: zaenimahardika@gmail.com

Written By

The Monster Army (Junior Writer Interns) at Monster Journal.
The force behind the steady growth of Monster Journal and currently undergo a training and mentoring under the Editors of Monster Journal.
Most of the writers are students in high-school, university, and even fresh graduates.

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like