Categories Kultura

Jejak Historis Akulturasi Budaya Baju Koko

Sering dianggap sebagai busana resmi lelaki beragama Islam, rupanya baju koko memiliki sejarah yang bersinggungan langsung dengan eksistensi masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Pada awalnya, jenis baju dengan kerah tinggi tersebut dikenal dengan nama tui-khim. Baju ini dipakai oleh lelaki Tionghoa sejak abad ke-17 hingga abad ke-20. Potongannya longgar dengan kancing di bagian depan dan kerah tegak yang khas.

Pakaian ini lazim dikenakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh komunitas Tionghoa peranakan di berbagai kota pelabuhan Asia Tenggara.

Namun, masa kejayaan baju tui-khim sempat meredup. Menurut pengamat budaya Tionghoa peranakan David Kwa, pakaian seperti tui-khim, celana komprang, dan thng-sa perlahan ditinggalkan oleh orang Tionghoa sendiri.

Mereka kemudian beralih ke gaya berpakaian Eropa seperti kemeja, pantalon, serta jas buka dan jas tutup. Perubahan ini terjadi terutama setelah berdirinya Tiong Hoa Hwe Koan pada 1900, runtuhnya Dinasti Qing pada 1911, serta semakin banyak lelaki Tionghoa yang memperoleh persamaan hak dengan warga Eropa.

Istilah “baju koko” sendiri muncul dalam novel sejarah karya Remy Sylado berjudul Pangeran Diponegoro: Menuju Sosok Khalifah. Dalam karya tersebut, istilah baju koko dikatakan berasal dari kata “engkoh-engkoh” (panggilan kepada lelaki Tionghoa) yang disederhanakan.

Courtesy of Orami.

Pada masa awal pemerintahan Soeharto hingga sekitar 1980-an, rezim Orde Baru cenderung membatasi ruang gerak Islam, termasuk penggunaan simbol-simbol keislaman.

Namun, memasuki dekade 1990-an, muncul kebijakan yang kemudian dikenal sebagai “politik akomodasi Islam.” Dalam periode ini, unsur-unsur Islam mulai memperoleh ruang yang lebih luas dalam struktur negara maupun kehidupan publik.

Salah satu bentuknya adalah akomodasi kultural, yaitu diterimanya ekspresi budaya Islam di ruang publik. Contohnya dapat dilihat dari penggunaan jilbab, baju koko, hingga ucapan assalamu’alaikum.

Sejak masa itu hingga sekarang, pemakaian baju koko semakin meluas di masyarakat. Desainnya pun terus berkembang dengan tampilan yang lebih sederhana namun tetap dihiasi bordir khas.

Semakin modern, baju koko hadir dalam beragam warna, mulai dari putih, abu-abu, cokelat, hingga hitam. Tidak seperti pada awalnya yang hanya berwarna putih sebagai simbol kesucian.

Perubahan ini menunjukkan bahwa baju koko tidak lagi sekadar pakaian religius, tetapi juga bagian dari perkembangan budaya dan mode di masyarakat Indonesia. Dari busana yang berakar pada tradisi Tionghoa hingga menjadi identitas busana Muslim, baju koko mencerminkan proses akulturasi budaya yang panjang dan dinamis.

Written By

Petricia Putri Marricy

A Dullahan (Senior Writer) at Monster Journal.
A woman issue enthusiasts and a fan of Angelina Jolie and Keigo Higashino.
Currently a student at English Literature department and soon to be a graduate.
(petriciamarricy@gmail.com)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like