Categories Film Review

Review, Keluarga Super Irit (2025)

Berangkat dengan sebuah ekspektasi film comedy yang penuh tawa, nyatanya Keluarga Super Irit tidak benar-benar menyuguhkan tawa. Bukan karena film ini gagal melucu, melainkan karena ia lebih tertarik berdiri di wilayah ambigu antara komedi keluarga, satir sosial dan drama ringan yang enggan sepenuhnya masuk pada salah satunya. 

Film dibuka dengan adegan pemotongan gaji Tony (Dwi Sasono) di kantornya, momen ini menjadi pemantik dalam kisah keluarga irit ini. Berbagai keputusan mencoba dipikirkan, hingga munculah masalah terkait penyewaan rumah yang sudah jatuh tempo, tetapi uang masih belum ready. 

Dari sini, sudah terlihat bagaimana permasalahan yang datang secara bersamaan. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pindah rumah, mencari dan mereka pada rumah burung yang secara kasarnya memang lebih cocok untuk burung karena ukurannya yang terlalu kecil untuk 5 orang. 

Di sinilah film bermain di wilayah satir terkait frugal living sampai batas ekstrem. Namun alih-alih menggali momen ini sebagai kritik, film ini lebih condong pada perayaan kenyamanan, seolah semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan kemauan untuk hidup lebih irit. 

Adegan terus berlanjut dan menunjukkan bagaimana kehidupan mereka terus berjalan normal. Linda (Widi Mulia) turut bekerja dengan membuka jasa titip pasar, Sally (Widuri Puteri) yang turut mencari uang dengan berjualan merchandise k-pop, Billy (Dru Prawiro Sasono) yang paling nyeleneh dan menikmati hidup, sedangkan anak terakhir Kenny (Den Bagus Sasono) rajin belajar dan selalu memberi solusi dan ide unik. 

Hingga menit ini tidak ada adegan yang benar-benar membuat tertawa renyah, mengingat genre ini comedy. Namun, bagian menariknya, ada beberapa cameo yang muncul dan cukup memberi kesan. Seperti Coki Pardede yang menjadi penjaga warnet, Indro Warkop yang menjadi Kakek, Mandra yang menjadi Engkong hingga Onadio Leonardo yang menjadi adik Linda. 

Ketika keluarga ini mulai merasa nyaman, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah lama. Masalah utama mengenai uang yang tidak cukup dan sejatinya belum pernah benar-benar diselesaikan menjadi salah satu bagian emosional. Apalagi saat Sally baru saja terkena penipuan percetakan, membuat momen ini cukup emosional.

Peran kepala keluarga dipertanyakan, peran Ibu dipojokkan, Sally menyalahkan kedua orang tuanya karena selalu mengajari atau lebih tepatnya mendorongnya untuk mulai membangun usaha. Padahal di usianya yang masih muda belum saatnya untuk memikirkan uang. 

Masalah dan masalah terus berdatangan, uang sewa rumah lama kurang, pengunduran diri Tony, hingga usaha jastip pasar Linda turut sepi. Seolah semesta menghukum mereka akan gaya hidup mereka yang terbilang pelit, lalu kembali ke titik awal. 

Ambisi mereka untuk kembali ke rumah sewa yang ternyata gagal karena penyewa baru berani membayar lebih. Dan seperti yang sudah di duga, keluarga irit ini mencari rumah Engkong untuk memperpanjang kontrak di rumah burung. 

Secara akting rasanya sudah tidak perlu diragukan lagi, mereka cukup solid dan banyak aktor senior yang muncul. Akan tetapi, rasanya cukup mengganjal karena film ini bergenre comedy yang nyatanya tidak benar-benar lucu. Film ini akan lebih mengesankan jika dari awal diperkenalkan sebagai film keluarga.

Pada akhirnya Keluarga Super Irit terasa seperti film yang tidak sepenuhnya percaya pada premisnya sendiri. Memulai cerita dengan isu yang sangat relevan pada kelas menengah yang terjepit ekonomi, namun tidak benar-benar berani membawa isu menuju konsekuensi yang lebih tajam. Semua konflik besar selalu diakhiri dengan penerimaan dan kepasrahan, seolah film takut jika terlalu keras pada karakternya sendiri. 

Our Score 6,5/10 

Judul: Keluarga Super Irit
Produksi: Falcon Pictures
Sutradara: Danial Rifki
Penulis: Theodore Arnoldy, Lee Bongki-ki, Fahmie Yanardi
Pemain: Dwi Sasono, Widi Mulia, Dru Prawiro Sasono, Widuri Puteri

Written By

Maulida Ika Cristiana

A Dullahan (Senior Writer) at Monster Journal.
She has developed experiences as a writer both in content writing and journalism through various projects.
Ana enjoys film with women issues, as well as horror. A Bachelor in Economic Education.
(maulidaana69@gmail.com)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like