Bandara internasional perlahan menjadi panggung pentas dipamerkannya busana-busana para idola yang kemudian menjadi bahan obsesi penggemarnya. Banyak dari para idola berhenti sejenak mengizinkan dirinya disorot dan diabadikan oleh para penggemar yang menunggu.
Tak sedikit pengguna media sosial yang diasosiasikan sebagai akun penggemar mengunggah foto idola disertai merk dan harga busana yang dikenakannya. Hal tersebut mendorong penggemar lainnya untuk mendapatkan busana senada dengan idola mereka.
Hal ini tak hanya dimanfaatkan para idola untuk menunjukkan betapa memukaunya mereka dalam busana tertentu, dan penggemar yang susah-payah hunting foto untuk koleksi mereka. Tapi, juga menjadi peluang penuh bagi brand-brand tertentu untuk mempromosikan nama mereka.Tentu saja, hal ini mendorong perilaku konsumsi yang merambat satu kepada yang lainnya di kalangan penggemar. Tak perlu bicara soal busana, pernak-pernik atau FnB pun sering kali diburu oleh para penggemar.

Salah satunya ada brand LAP yang memilih Kang Daniel, mantan member WannaOne, sebagai brand ambassador. Dalam hitungan menit, sesaat setelah Kang Daniel tampil ke publik mengenakan mantel LAP, busana tersebut ludes terjual.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa airport fashion tidak lagi sekadar ekspresi personal seorang idola, melainkan telah berubah menjadi mekanisme produksi hasrat konsumsi. Nilai guna mantel tersebut secara instan bergeser menjadi nilai simbolik. Mantel itu tidak lagi dilihat semata sebagai pelindung tubuh dari cuaca, tetapi sebagai representasi kedekatan imajiner dengan sosok idola.

Penggemar, dalam hal ini, tidak hanya membeli produk, tetapi membeli narasi yang melekat padanya. Airport fashion menjadi semacam jembatan visual yang menghubungkan ruang privat idola dengan ruang konsumsi publik penggemar.
Media sosial mempercepat proses ini dengan mengubah setiap kemunculan idola menjadi katalog berjalan. Akun-akun penggemar berfungsi layaknya kurator sekaligus distributor informasi komoditas: mengidentifikasi merek, membagikan harga, dan menyediakan tautan pembelian.
Pada titik ini, airport fashion beroperasi sebagai mesin reproduksi konsumerisme berbasis afeksi. Ketertarikan emosional penggemar terhadap idola dimobilisasi menjadi dorongan ekonomi yang nyata. Idola menjadi medium, bandara menjadi panggung, dan penggemar menjadi pasar yang selalu siap merespons. Yang dikonsumsi bukan lagi sekadar busana, melainkan kemungkinan untuk merasa lebih dekat.

