Categories Film Review

Review, The Red Envelope (2025)

Berangkat dari film Marry My Dead Body, The Red Envelope hadir dengan kesegaran baru, membawa karya bergenre horor-komedi ini terasa dekat dengan penonton. Meski fokus pada pada isu pernikahan sesama jenis, adegan dan nuansa romantis yang dibangun tetap fokus pada kasih sayang dan kehangatan setiap karakternya.

Menn (Putthipong Assaratanakul), yang merupakan informan polisi, secara mendadak harus menikah dengan Titi (Krit Amnuaydechkorn), seorang lelaki yang telah wafat, karena menemukan amplop merah.

Ketika hantu Titi muncul dalam keseharian Menn, ia pun merasa bertanggung jawab untuk membantu lelaki itu menyelesaikan masalahnya di dunia agar Titi bisa bereinkarnasi.

Konflik demi konflik dihadapi Menn bersama Titi. Tak disangka, pekerjaan Menn sebagai informan polisi dalam kasus narkoba dan misinya menemukan pelaku tabrak lari Titi saling berkaitan. Mereka pun bekerja sama menyelesaikan kasus-kasus tersebut dengan cara yang mengundang gelak tawa sekaligus rasa haru.

Alur film ini memang terasa lambat karena terlalu banyak konflik yang dibahas di dalamnya. Ritme cerita yang cenderung padat membuat beberapa bagian terasa bertele-tele. Meskipun begitu, semua konflik tetap terhubung oleh benang merah yang mengantar pada kasus besar yang dikerjakan Menn.

Titi & Menn. Courtesy of IMDb.
Dari segi karakter, perkembangan hubungan Menn dan Titi terasa signifikan. Menn, yang sebelumnya merupakan seorang homofobik, mulai menerima keberagaman di sekitarnya setelah menjalani hari-hari bersama Titi dan berusaha memahami perasaannya.

Tak hanya itu, ayah Titi yang dahulu belum menerima kondisi anaknya, akhirnya mulai jujur kepada Menn dan mengatakan bahwa ia telah menerima Titi sebagai bagian dari keluarganya.

Dari segi akting, Putthipong Assaratanakul atau yang akrab disapa Billkin, bersama Krit Amnuaydechkorn, berhasil membangun chemistry yang kuat. Gaya bicara dan interaksi keduanya terasa natural, menghidupkan momen komedi sekaligus memperkuat sisi emosional film.

Titi & Menn. Courtesy of Suara.com
Secara teknis, film ini mampu menyeimbangkan nuansa horor dan komedi dengan cukup baik. Penggunaan pencahayaan dan tone warna mendukung suasana misterius tanpa menghilangkan elemen ringan yang menjadi ciri khas genre ini. Musik latar juga terasa pas dalam membangun emosi, baik saat adegan haru maupun momen lucu.

Secara keseluruhan, The Red Envelope berhasil menghadirkan kisah yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh. Perpaduan antara horor, komedi, dan isu sosial yang diangkat terasa seimbang, didukung oleh performa aktor yang solid.

Film ini tidak fokus pada penerimaan sesama jenis, tetapi pada hiburannya sehingga tidak terasa monoton dan menggurui. Meski memiliki kekurangan pada ritme cerita, film ini tetap menjadi tontonan yang berkesan dan layak untuk diapresiasi.

Our Score: 8/10

Judul: The Red Envelope (Remake dari Marry My Dead Body)
Sutradara: Chayanop Boonprakob
Rumah Produksi: GDH 559
Pemeran: Putthipong Assaratanakul, Krit Amnuaydechkorn

Written By

Petricia Putri Marricy

A Dullahan (Senior Writer) at Monster Journal.
A woman issue enthusiasts and a fan of Angelina Jolie and Keigo Higashino.
Currently a student at English Literature department and soon to be a graduate.
(petriciamarricy@gmail.com)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like