Categories Essay Focus

Luffy ‘Gear 5’ dan Fenomena Fans Karbitan

Monkey D. Luffy, yang merupakan karakter utama dalam anime One Piece, akhirnya mencapai Gear 5. Hal tersebut terungkap dalam episode 1071 anime ini. Kekuatan terbaru Luffy disambut fans dan wibu dengan antusias. Melansir situs Liputan 6, Luffy Gear 5 merupakan “momen sakuga yang jarang terjadi.”

Antusiasme fans One Piece dirayakan dengan mengganti foto profil media sosial dengan gambar Luffy Gear 5. Facebook, Instagram, hingga TikTok dipenuhi warganet yang merayakan Gear 5.

Meski begitu, hal tersebut justru menghasilkan polemik. Fans One Piece, terutama mereka yang mengikuti anime tersebut sebagai fans karbitan. Mereka dituding menggunakan foto profil Luffy Gear 5 demi mendapatkan followers dan keuntungan pribadi. Perdebatan daring pun menyeruak, antara kaum wibu, fans One Piece, dan mereka yang dituding sebagai fans karbitan.

Luffy dalam mode Gear 5. Gambar ini menjadi ikonik ketika digunakan sebagai foto profil akun media sosial, baik oleh para nakama (fans anime One Piece) maupun para fans karbitan (temporary fans), courtesy of yukinoshita.web.id

Apakah mereka yang disebut sebagai fans karbitan tersebut berbuat hal yang salah? Jika tidak, bagaimana seharusnya menjelaskan fenomena Luffy Gear 5 tersebut di internet?

Fans karbitan, atau temporary fans, merupakan istilah yang umum digunakan dalam dunia olahraga. Istilah ini, mengutip Kenneth A. Hunt dkk. dalam artikel A Conteptual Approach to Classifying Sports Fans, fans karbitan merujuk kepada mereka yang menyukai suatu klub olahraga pada waktu tertentu. Ketertarikan mereka akan menghilang seiring waktu, terutama ketika klub olahraga yang mereka dukung kehilangan masa emas mereka.

Tidak jarang, fans karbitan akan berubah menjadi local fans dan setia mengikuti suatu klub olahraga. Hal tersebut dapat kita lihat ketika Leicester City menjuarai Premier League pada musim 2015/2016. Banyak orang, terutama di Indonesia, mendadak menjadi fans klub sepak bola berjulukan The Foxes ini.

Seiring perjalanan Leicester City di Premier League yang naik-turun, sebagian kehilangan minat mereka terhadap The Foxes. Meski begitu, terdapat beberapa fans yang berubah menjadi local fans dan merintis Indo Foxes, kelompok penggembar Leicester City di Indonesia.

Indo Foxes, local fans klub bola Leicester City yang bermula dari para fans karbitan, courtesy of INDOSPORT.com

Selain fenomena Indo Foxes, hal serupa dapat kita saksikan setiap season (musim) penayangan anime baru. Anime, yang saat ini lebih banyak menjual karakter yang waifuable, memunculkan sekumpulan wibu yang menjadikan karakter tersebut sebagai bagian dari harem mereka. Tidak jarang pula, mereka menggunakan foto profil karakter anime tersebut, sebagai wujud rasa cinta mereka.

Fenomena Luffy Gear 5 serupa dengan kisah fans karbitan dalam dunia olahraga. Mereka mewujudkan ketertarikan mereka terhadap One Piece dengan ikut menggunakan foto profil Luffy Gear 5. Sebagian dari mereka, seiring hilangnya hype akan One Piece, akan mengganti foto profil mereka. Sebagian lainnya, akibat rasa penasaran, mulai mengikuti anime ini dan menjadi local fans.

Selain melalui kacamata temporary fans dan local fans, fenonema fans karbitan dapat dilihat melalui pendekatan memetika. Mengutip Richard Dawkins dalam buku The Selfish Gene, suatu unit kehidupan menyebar dan direplikasi ke kehidupan lain dalam bentuk meme. Sebuah unit kehidupan, dalam proses transmisi, dimaknai kembali oleh unit kehidupan yang baru dengan cara mereka sendiri, berbeda dengan makna asal unit kehidupan tersebut. Proses pemaknaan ini menghasilkan unit kebudayaan yang serupa dengan unit kebudayaan induk, tetapi hidup dalam dunia mereka sendiri.

Richard Dawkins (lahir 1941), ahli biologi Inggris yang mencetuskan teori mengenai meme, courtesy of The Times

Dalam kasus Luffy Gear 5, aksi local fans anime One Piece menyebarkan cukilan gambar episode 1071 menjadi meme yang dipahami oleh banyak kalangan, terutama mereka yang awam dengan animeini. Kemunculan meme ini juga dapat diartikan sebagai transmisi unit kebudayaan dari local fans ke fans karbitan. Fans karbitan, pada tahap berikutnya, memberikan pemaknaan tersendiri mengenai Luffy Gear 5.

Proses transmisi tersebut, dibantu dengan internet yang saat ini menjadi kebutuhan primer masyarakat dunia, membuat Luffy Gear 5 menjadi internet meme, meme di internet. Luffy tidak lagi milik local fans; ia telah menjadi milik segenap warganet, baik fans karbitan maupun mereka yang sekadar menikmati meme tersebut.

Jika kita melihat fenomena meme dalam dunia digital, keberadaanLuffy Gear 5 dapat diartikan sebagai proses pemaknaan pemaknaan kembali. Mengutip Limor Shifman dalam buku Memes in Digital Culture, ketika sesuatu fenomena telah berubah menjadi meme, ia akan dimaknai secara berbeda oleh warganet, mengikuti mentalitas dan kebudayaan mereka. Proses pemaknaan tersebut akan menghasilkan makna baru, berbeda dengan makna asal. Dalam bahasa yang berbeda, mengutip Roland Barthes dalam esai The Death of The Author, penikmat dan pembuat meme memberikan pemaknaan mereka sendiri atas sebuah meme.

Roland Barthes (1915-1980), filsuf Prancis yang menyatakan bahwa sebuah teks tidak memiliki makna lagi dan bebas dimaknai para pembacanya setelah diterbitkan dalam esai The Death of The Author (1967), courtesy of The New Yorker

Pada akhirnya, fenomena kemunculan fans karbitan Luffy Gear 5 merupakan sesuatu yang wajar terjadi. Meski kehadiran fans karbitan, yang sebagian besar awam terhadap anime One Piece, membuat resah local fans anime ini, mereka menjadi wujud apresiasi terhadap popularitas anime yang telah tayang sejak 1999 ini. Mereka menjadi calon local fans baru anime ini.

One Piece sendiri adalah salah satu anime populer di Indonesia, dan sudah berjalan sejak lama. Adalah sangat wajar, jika dalam perjalananya, akan melahirkan banyak fans yang menggemari anime ini. Gear 5 adalah salah satu momen penting dalam cerita anime ini, ketika Luffy akan mengalahkah Kaido. Momen ini merupakan sebuah titik penting dalam perkembangan fandom One Piece.

Written By

Avatar

Lich King (Editor) at Monster Journal.
Mostly writing about Social and Culture.
Also managing a site and community related to history.
Used to work as a Journalist. Now working as a history teacher.

(prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like