Categories Film Review

Review, Avengers : Infinity War (2018)

Sepuluh tahun yang lalu, Marvel merilis sebuah film berjudul Iron Man. Film pertama yang tanpa diketahui akan menjadi dasar pendapatan dari gudang harta milik Marvel Studios. Awalnya tentu tak ada yang tahu bagaimana nasib Iron Man dan Marvel Studios kedepannya, bahkan saat Iron Man pertama ditayangkan pada 2008.

Satu dekade telah berlalu. Dalam rentang waktu tersebut Marvel Studio sudah merilis 18 film, box office telah dikuasai, dan milliaran dollar telah dihasilkan. Suksesnya Marvel membuat film superhero kini menjadi blockbuster favorit dan juga tontonan utama para penikmat sinema bioskop.

Sepuluh tahun waktu yang dibutuhkan untuk membuat Avengers : Infinity War. Bukan filmnya yang melalui proses tahap produksi selama sepuluh tahun, tapi membangun dunia dan memunculkan berbagai karakter-nya yang membutuhkan waktu selama itu. Avengers : Infinity War adalah sebuah pencapaian baru dalam dunia film. Bukan hanya sebagai film dengan pendapatan domestik terbesar di Amerika Serikat dalam minggu pertamanya tampil yang berhasil menyusul Star Wars : The Force Awekens (2015, prod : Lucas Film), Avengers : Infinity War juga menjadi film yang membutuhkan 18 prequel film dalam membangun ceritanya.

Film ini dibuka dengan kelanjutan cerita film Marvel sebelumnya yakni Thor : Ragnarok. Thor (Chris Hemsworth), Loki (Tom Hiddleston) dan  para penghuni Asgard terlihat tak berdaya dengan kedatangan Thanos (Josh Brolin) dan pasukannya.

Secara singkat, Thanos berusaha untuk mengumpulkan enam buah batu yang disebut sebagai ‘Infinity Stones’. Batu-batu tersebut memiliki kekuatan istimewanya masing-masing, Infinity Stones terbentuk saat Big Bang dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Jika keenam Infinity Stones tersebut bersatu, maka Thanos akan dengan mudah mampu menghancurkan alam semesta dan membentuk dunia sesuai keinginannya.

Avengers : Infinity War ini memang memiliki sentuhan khas cinematic universe yang sangat kental. Tak hanya soal para superhero yang berkumpul, tapi juga soal lini waktu dari setiap tokohnya. Misal kita lihat saat Hulk atau Bruce Banner (Mark Ruffalo) meminta Tony Stark (Robert Downey Jr.) untuk mengumpulkan para anggota Avengers saat ancaman Thanos datang.  Namun kemudian Tony Stark memberitahukan bahwa Avengers sudah bubar.

Film ini kembali disutradarai oleh Russo Brothers (Anthony Russo dan Joe Russo), orang yang sama yang menyutradarai Captain America : The Winter Soldier (2014) dan juga Captain America : Civil War (2016). Seperti judulnya, Infinity War, film ini dipenuhi degan aksi pertempuran dengan tampilan visual yang megah. Avengers : Infinity War tampil sesuai dengan ekspektasi sebagai sebuah film blockbuster ber-skala besar.

Dengan tokoh penting sebanyak itu dan juga panjang film yang mencapai 2,5 jam, besar kemungkinan bagi film ini untuk tampil berantakan dalam segi alur cerita, besar juga kemungkinan untuk film ini tiba-tiba tampil membosankan ditengah-tengah cerita. Namun Avengers : Infinity War tampil dengan baik dengan sebagaimana keadaan narasi-nya.

Memang terasa, film ini tidak tampil sempurna dan juga tidak sebaik film-film Marvel yang lain. Namun ini adalah versi terbaik yang memang mampu dihasilkan oleh Avengers dengan banyaknya tokoh yang tampil, dan juga banyaknya adegan aksi yang memang harus ditampilkan. Film ini juga tampil jauh lebih baik ketimbang seri Avengers sebelumnya yakni Avengers : Age of Ultron (2015).

Salah satu hal yang disayangkan dari film ini adalah karakteristik Thanos yang kurang maksimal serta kurang terasa sebagai seorang ultra-villain. Selama ini Marvel selalu berhasil menampilkan sosok antagonis yang berkarakter kuat dengan membawa konfilk dan penderitaanya masing-masing seperti Loki, Helmut Zemo, Hela, dan juga Killmonger. Para pemeran antagonis tersebut tak hanya jahat dan kuat tapi juga membawa kegelisahan emosional juga luka masa lalu yang kuat. Namun tidak dengan Thanos, taka da yang istimewa dari Thanos selain ia ingin menguasai dunia. Beberapa kali justru tampak Thanos memaksakan diri untuk menampilkan kegelisahan manusiawi-nya.

Banyak yang mungkin beranggapan bahwa film ini banyak nyampah, terlalu banyak tokoh yang dimunculkan dan juga terlalu kebanyakan aksi sehingga tidak jelas kemana dan bagaimana ceritanya dibangun. Namun, tidak mudah memang membangun cerita yang rapih dengan karakter dan narasi cerita seperti ini. Kali ini biarkanlah Marvel sedikit ‘menyampah’ meskipun hanya untuk sekedar melampiaskan rasa penasaran ‘what-if scenario’ dari para penggemar Marvel yang memang menginginkan film ini ada.

Seperti judulnya, Avengers : Infinity War, perang yang dilakukan oleh para pahlawan super terkuat bumi dan pelindung galaksi terhadap Thanos masih belum berakhir. Film ini berhasil tampil dalam versi terbaik yang sebagaimana narasinya ada.

 

Our Score (7,5/10)

 

 

Judul                     : Avengers : Infinity War
Produksi              : Marvel Studios
Sutradara            : Anthony Russo dan Joe Russo
Cerita                   : Christopher Markus dan Stephen McFeely
Cerita Asli           : The Avengers, oleh : Stan Lee dan Jack Kirby
Pemeran             : Josh Brolin, Robert Downey Jr., Chris Evans, Benedict Cumberbatch, Mark Ruffalo, Tom Holland, Chadwick Boseman, Chris Hemsworth, Chris Pratt

 

 


Oleh : Putu Radar Bahurekso
t : @puturadar | ig : putu.radar


 

Written By

Avatar

Demon Lord (Editor-in-Chief) of Monster Journal.
Film critics, and pop-culture columnist.
A bachelor in International Relations, and Master's in Public Policy.
Working as a Consultant for Communications and Public Affairs.

(radarbahurekso@gmail.com)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like