Categories Film Review

Review Film Pamali: The Little Devil (2025)

Film Pamali: The Little Devil kembali hadir dengan memperluas semesta Pamali yang sudah dikenal lewat game dan dua film pendahulunya. Film ini tetap bertumpu pada horor dengan basis budaya dan larangan adat (pamali) yang relevan dengan ketakutan masyarakat Indonesia.

Momen ketika Ambar, ibu Putri yang diperankan oleh Djenar Maesa Ayu, menemukan uang terbungkus plastik di pinggir jalan. Meski sempat berniat menyerahkannya kepada Pak RT, Ambar mengubah pikirannya dan mengambil uang tersebut- sesuatu yang telah menjadi awal dari pelanggaran pamali dan kemudian memicu seluruh rangkaian teror.

Sayangnya, adegan krusial ini tidak diberikan bobot emosional yang cukup. Keraguan Ambar hanya hadir sekilas tanpa konflik batin sebagai kebutuhan naratif untuk menggerakkan cerita ketimbang tragedi yang muncul karena keterdesakan sesaat. 

Lalu, muncul adegan Putri (Keisya Levronka) yang sedang berbincang dengan Cecep (Fajar Nugra) dan Kiki (Ummi Quary) yang mana ketiganya berfoto dan muncul narasi bahwa tidak boleh foto bertiga karena pihak tengah akan mengalami kesengsaraan. 

Adegan ini seolah menegaskan bahwa film pamali seri ini akan membahas tentang larangan adat untuk tidak pernah berfoto bertiga. Seperti film yang pertama dengan pamalinya untuk tidak memotong kuku saat malam hari, lalu film keduanya yang harus menghormati dan mengikuti aturan setiap daerah.

Alih-alih membiarkan teror bekerja perlahan, film langsung melompat ke tahap konsekuensinya. Ambar menghilang dan secepat itu pula ketiga orang itu mulai mencarinya. Sebuah nalar yang langsung tertuju pada pabrik tua bekas milik orang terkaya di kampung. Adegan ini terasa kurang, karena mereka terlalu cepat mengetahui kemana harus pergi mencari padahal hanya bermodalkan uang segepok yang sempat di ambil Ambar. 

Putri, Cecep dan Kiki seolah langsung melompat pada kesimpulan tanpa cukup petunjuk yang dibangun secara bertahap. Perjalanan menuju pabrik tua yang seharusnya menjadi ruang pembentukan atmosfer dan tekanan psikologis justru kehilangan momennya.

Setibanya di pabrik tua, mereka langsung mencari dan pola horor muncul seperti biasa bahkan tidak menimbulkan rasa takut atau kaget. Salah satu bagian menarik adalah saat Cecep merasa marah karena sifat gegabah yang dimiliki oleh Putri yang tidak meminta bantuan warga dan memilih mencari sendiri. 

Di antara semua adegan yang terasa buru-buru, Cecep menjadi angin segar karena dapat berpikir secara logis. Momen itu tidak lama karena setelah Cecep memutuskan mencari bantuan, Putri dan Kiki memperlihatkan bagaimana remaja SMA yang suka memutuskan sesuatu seenaknya dan tidak memikirkan konsekuensinya. 

Lalu, adegan berpindah ke rumah tua karena Kiki dan Putri tidak menemukan siapa pun di pabrik tersebut. Ketegangan yang semestinya meningkat justru kerap terhenti oleh kemunculan horor instan dan pola jumpscare yang repetitif. 

Tidak lama Pak RT Sukiman (Verdi Solaiman) datang bersama anaknya dan langsung menyekap Cecep dan Aji (Krishna Keitaro) adik Putri. Dari sini cerita berlalu begitu saja dengan Kiki yang tewas karena dibenturkan ke kaca, Cecep yang tertimpa ember tabung, lalu Putri yang menemukan Ibunya. Kematian demi kematian hadir bukan sebagai konsekuensi dari pelanggaran pamali, melainkan sekadar pemenuhan kebutuhan cerita untuk segera selesai. 

Penjelasan mengenai sosok antagonis pun terasa terlalu ringkas dan praktis. Fakta bahwa hantu yang meneror adalah istri Pak RT, korban dari keserakahan suaminya yang ingin kaya raya dengan menyusui tuyul, disampaikan terlalu ringkas. Tidak ada proses pengungkapan yang memberi dampak psikologis, baik bagi karakter maupun penonton, hanya sekedar cukup tahu saja. 

Ironi terbesar dalam film ini adalah sejak awal menjual konsep pelanggaran adat tapi penyelesaiannya terkesan terburu-buru. Pamali yang seharusnya mampu menjadi teror perlahan yang mengguncang psikologis, berubah menjadi horor instan yang repetitif dan cepat berlalu begitu saja. 

Menariknya, film menutup cerita dengan kemunculan kembali Cecep yang ternyata selamat dan berdialog dengan Mila- karakter dari film Pamali: Dusun Pocong yang mengerucut pada pembahasan Kampung Pocong. Adegan ini jelas dimaksudkan sebagai penghubung antar film dan penanda bahwa semesta Pamali masih akan berlanjut. Sebagai penutup film, momen ini terasa lebih seperti setup untuk cerita berikutnya ketimbang resolusi yang memuaskan bagi kisah yang baru saja disaksikan.

Our Score 6.5/10 

Judul: Pamali: The Little Devil
Produksi: LYTO Production
Sutradara: Bobby Prasetyo
Penulis: Evelyn Afnilia
Pemain: Keisya Levronka, Fajar Nugra, Ummi Quary

Written By

Maulida Ika Cristiana

A Dullahan (Senior Writer) at Monster Journal.
She has developed experiences as a writer both in content writing and journalism through various projects.
Ana enjoys film with women issues, as well as horror. A Bachelor in Economic Education.
(maulidaana69@gmail.com)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like