Masyarakat Indonesia seringkali menjalani hidup berdampingan dengan mitos.
Bagi beberapa orang, memercayai sebuah mitos mungkin adalah hal yang aneh dan tidak masuk akal. Hal itu disebabkan pada zaman sekarang ini ilmu pengetahuan sudah berkembang pesat, maka banyak masyarakat menganggap bahwa mitos hanya omong kosong belaka.
Namun, pada kenyataannya, mitos yang dibentuk oleh masyarakat justru banyak memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Dan bahkan mitos menjadi benih bagi penelitian-penelitian ilmiah.

Berangkat dari konsep kepercayaan terhadap hal-hal spiritual, mitos seringkali difungsikan untuk menjelaskan berbagai hal yang sulit dipahami masyarakat terdahulu secara ilmiah, seperti fenomena alam hingga interaksi sosial.
READ ALSO:
Pamali, dalam budaya Jawa, merupakan salah satu contoh penerapan mitos. Mitos menjadi landasan terbentuknya pamali sebagai sebuah pantangan atau larangan dalam melakukan sesuatu.
Misalnya, larangan keluar rumah saat waktu magrib karena banyak roh jahat pada waktu tersebut. Padahal, jika dipikirkan secara logis, alasan mengapa keluar rumah pada waktu magrib dapat berbahaya adalah karena hari mulai gelap dan ada kemungkinan terjadinya kriminalitas.
Selain itu, ada pula mitos di Bali tentang kekuatan gaib yang menghuni pohon beringin. Masyarakat Bali umumnya mempercayai sebuah falsafah hidup yang disebut Tri Hita Karana, yakni keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama manusia. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, pohon beringin menjadi tempat roh suci leluhur bersemayam sekaligus simbol harmoni dalam hubungan manusia dengan alam.
Pohon-pohon beringin di Bali, terutama yang tumbuh di tempat-tempat suci, akan dililit dengan kain kotak-kotak hitam-putih yang disebut kain poleng. Dengan begitu, pohon beringin yang dililit kain poleng dipahami secara sakral untuk tidak sembarangan didekati. Secara tidak langsung, mitos kekuatan gaib pada pohon beringin melindungi pohon beringin dari tebang liar tanpa seseorang harus diberi penjelasan terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam hal ini, segala upaya penciptaan mitos oleh masyarakat inilah yang disebut dengan etnosains atau pengetahuan lokal.
Etnosains adalah ilmu murni yang diciptakan sendiri oleh masyarakat, jauh sebelum ilmu pengetahuan hadir dan berkembang. Namun, pada zaman ini, saat ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang dengan begitu pesat, nyatanya kepercayaan masyarakat terhadap mitos masih melekat kuat.
Etnosains menjadi sebuah cara untuk memahami suatu hal dengan mudah dan dapat dijangkau oleh semua kalangan. Oleh karena itu, etnosains bahkan diterapkan dalam ilmu-ilmu pembelajaran di ruang akademik sebagai inklusivitas ilmu pengetahuan yang tidak lagi mengotak-ngotakan antara mitos dan pengetahuan.
Amalia Vidhyana
IG: @liaaviy
E-mail: amaliavidhyana@gmail.com

