Categories Focus Opinion

Pride Month dalam Bayang-Bayang “Rainbow Capitalism” Perusahaan Gim Video

Ketika Pride Month, bulan untuk merayakan suara kebebasan kelompok LGBTQ, tahun ini belum resmi dimulai, Target justru panen cibiran dari kelompok LGBTQ. Pasalnya, salah satu usaha retail besar di Amerika Serikat ini menarik sejumlah pernak-pernik bertemakan LGBTQ dalam Pride Collection. Dalam keterangan resmi yang dimuat situs mereka, hal tersebut dilakukan menyusul berbagai ancaman yang diterima pekerja Target.

Tindakan Target menarik pernak-pernik bertemakan LGBTQ mengundang polemik mengenai rainbow capitalism, ketika korporasi besar menyuarakan dukungan terhadap kelompok LGBTQ dengan meraup kapital sebanyak-banyaknya. Banyak pihak, terutama kelompok LGBTQ, menuding bahwa Target tak tulus dalam mendukung hak hidup mereka.

Salah satu outlet Target, courtesy of HBS Working Knowledge

Erik Carnell, desainer transgender yang harus merelakan produk-produknya ditarik dari Target, mengatakan bahwa Target seharusnya tetap bertahan mendukung kelompok LGBTQ, apa pun yang terjadi. Mengutip Reuters, ia menyatakan:

“jika ingin mengambil posisi dan mengatakan bahwa kau [Target] peduli dengan kelompok LGBTQ, kau harus tetap bertahan di tengah berbagai goncangan yang ada.”

Melihat kasus yang dialami Target, masihkah korporasi besar, terutama korporasi gim video, tulus dalam merayakan Pride Month dan mendukung hak hidup kelompok LGBTQ?

Pride Month tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa kerusuhan Stonewall pada 28 Juni 1969. Dalam kerusuhan tersebut bermula dari penyergapan polisi ke The Stonewall Inn di New York. Peristiwa ini berlangsung selama enam hari berturut-turut dan berakhir dengan penahanan 21 orang.

Christopher Street Gay Liberation Day pada 1970, cikal bakal Pride Month, courtesy of CNN

Satu tahun kemudian, empat aktivis kelompok LGBTQ melakukan unjuk rasa. Dengan melantangkan kalimat “katakan lebih keras, menjadi homoseksual adalah sebuah kebanggaan” (say it loud, gay is proud), Harriet Cripps dalam artikel PRIDE Month and The History of Stonewall mengatakan bahwa aksi unjuk rasa tersebut direplikasi ke ratusan kota di dunia, menjadi Pride Month yang kita kenal hingga kini.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan gim video ikut andil dalam menyemarakan Pride Month. Mengutip situs Digital Trends, Microsoft merayakannya dengan memberikan beberapa gim mereka secara gratis pada 2021. Selain itu, beberapa skin dan aksesoris bertemakan LGBTQ juga dirilis, seperi Forza Rainbow livery untuk gim Forza Horizon 4 dan Forza Motorsport 7, serta pixelated heart banner dalam gim Gears of War 5.

Selain Microsoft, Riot Games juga turut serta memeriahkan Pride Month 2021. Pemain gim mereka, League of Legends, berkesempatan untuk memiliki rainbow home guard trails. Selain memberikan freebies, Riot juga menjual merch Pride Month, dengan 100% keuntungan yang didapat disumbangkan kepada It Gets Better Project.

Rainbow home guard trails, “freebies” dalam gim “League of Legends” untuk memperingati Pride Month 2021, courtesy of Game Specifications

Tahun ini, Xbox Game Studios tetap merayakan Pride Month dengan suka cita. Perusahaan ini mengumumkan bahwa mereka telah menjalin kerja sama jangka panjang dengan Gay & Lesbian Alliance Against Defamation (GLAAD). Melalui kerja sama tersebut, Xbox Game Studios berharap untuk memberikan lebih banyak ruang bagi kelompok LGBTQ untuk hidup dan bersuara.

Apakah geliat perusahaan video gim terhadap Pride Month sudah tepat? Tidak juga. Perayaan Pride Month akan meredup setelah satu bulan berlalu, Juni berganti Juli. Mereka tidak lagi menggunakan penanda bahwa mereka mendukung gerakan kampanye kelompok LGBTQ. Bisa dikatakan, keterlibatan perusahaan gim video dalam Pride Month adalah bagian dari strategi bisnis. Ketika ada suatu isu yang sedang viral, ketika ada momen yang ramai dirayakan, dan ketika ada target pasar yang diincar, memang sudah seharusnya mereka mampu untuk engage terhadap pasar, demi performa perusahaan. Tidak ada yang salah dengan ini, dan tidak ada yang salah dengan memanfaatkan suatu momentum.

Bayang-bayang rainbow capitalism masih menghantui perjuangan kelompok LGBTQ saat ini.  Perusahaan gim video mencoba untuk memanfaatkan situasi, dengan tetap membuat produk mereka diminati kelompok LGBTQ tanpa harus terlihat secara langsung untuk membantu mereka.

Protes terhadap “rainbow capitalism” yang dilakukan kaum queer dalam Dublin Pride 2016, courtesy of Wikipedia

Seperti yang dialami Blizzard Entertainment pada Pride Month 2021, yang menambahkan pernak-pernik Pride dalam katalog Blizzard Store mereka. Gamers dari kelompok LGBTQ memprotes tindakan tersebut melalui media sosial. Mereka berpendapat bahwa apa yang Blizzard lakukan “menghasilkan lebih banyak keburukan dibandingkan kebaikan.”

Sebagai pelaku bisnis, dukungan terhadap kelompok LGBT yang dilakukan perusahaan video gim penuh dengan berbagai kepentingan. Itu merupakan hal yang wajar, mengingat salah satu hal terpentin bagi perusahaan tentu saja ialah profit. Merayakan Pride Month, pada akhirnya, menjadi salah satu strategi bisnis mereka merebut pasar kelompok LGBT, sebagai supply dan demand, permintaan dan penawaran. Adanya keinginan kelompok LGBTQ untuk meminta dukungan, perusahaan gim video yang memberikan dukungan, dan pasar yang bisa menerima produk perusahaan, merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang normal terjadi.

Written By

Avatar

Lich King (Editor) at Monster Journal.
Mostly writing about social and culture.
Also managing a site and community related to history.
Used to work as a journalist. Now working as a history teacher.

(prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like