Akhir tahun kerap dibingkai dengan berbagai momen perayaan meriah, seperti kembang api, festival, konser hingga acara barbeque. Namun, di sela hiruk-pikuk itu, ada kebutuhan yang lebih sunyi dan jarang diakui dari sisi emosional.
Kebutuhan sederhana yang cukup dinikmati dengan duduk bersama keluarga, pasangan atau makan sendirian tanpa tergesa hingga merasa lega dari aktifitas padat setahun belakangan.
Ketika momen kebersamaan tak selalu mudah diwujudkan, kehangatan keluarga kerap hadir dalam bentuk lain, seperti salah satunya pada drama-drama korea.
1. Reply 1988

Drama ini bukan hanya menceritakan satu keluarga, melainkan satu lingkungan. Makan bersama, saling berteriak dari jendela satu sama lain, hingga bertukar makanan. Reply 1988 ini mengingatkan kita semua bahwa keluarga bukan hanya yang sedarah, melainkan yang benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kehangatannya lahir lewat konflik generasi, keterbatasan ekonomi, hingga gotong royong.
2. Hometown Cha-Cha-Cha

Sekilas serupa dengan Reply 1988, drakor ini juga menempatkan masyarakat, warga sebagai pusat cerita. Desa kecil yang dimana banyak warganya saling ikut campur, tapi mampu menghangatkan. Hometown Cha-Cha-Cha berhasil merayakan kerukunan sosial tanpa menutup mata pada batas privasi yang kerap kali kabur.
3. Welcome to Waikiki

Lewat komedi dan kekacauan, Welcome to Waikiki menghadirkan bentuk keluarga yang paling mengejutkan dan tidak terencana. Enam orang dewasa yang sama-sama gagal dengan 1 bayi yang mana dipaksa bertanggung jawab atas hidup bersama. Drakor ini menunjukkan bahwa kehangatan tidak selalu datang dari kestabilan, melainkan juga datang dari usaha memperbaiki segalanya dalam kondisi berantakan.
4. Dear My Friends

Jika drama korea keluarga biasanya dipenuhi dengan tokoh muda atau dewasa produktif, Drakor ini justru menempatkan para lansia sebagai pusat cerita. Persahabatan, keluarga, ketakutan akan kesepian mampu disampaikan dengan jujur. Dear My Friends mengingatkan penonton bahwa hidup akan terus berjalan, meski usia dan juga kebutuhan dicintai dan diakui tidak pernah benar-benar hilang.
5. My Liberation Notes

Berbeda dari drama keluarga yang mengandalkan tawa, My Liberation Notes justru menghantarkan kehangatan lewat keheningan. Kejujurannya dalam menampilkan kelelahan, kehampaan dan emosi tak terucap membuat gambaran beberapa keluarga terasa nyata. Drakor ini justru mengingatkan penonton bahwa keluarga tidak selalu berisi percakapan hangat dan tawa renyah, kadang cukup dengan saling diam dan berada dalam ruangan yang sama.

