Categories Focus Opinion

Melihat Anime Sebagai Pintu Masuk Belajar Sejarah

Pelajaran sejarah itu kaku! Juga, sejarah merupakan hal yang membosankan dan bikin ngantuk. Tidak jarang orang berpikiran demikian, yang menganggap bahwa sejarah sebagai sebuah pelajaran yang membosankan. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Kumparan berjudul Apakah Pelajaran sejarah Membosankan?, seorang siswi SMAN 6 Jakarta bernama Allya yang mengatakan bahwa ia “sering lari dari mata pelajaran sejarah”.

Pandangan Allya serupa dengan keluhan sebagian besar siswa sekolah di Indonesia yang menyatakan bahwa sejarah merupakan sesuatu yang membosankan, terlalu banyak menghafal, serta tidak relevan untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang. Bagi mereka, belajar sejarah hanya sebagai mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa lalu.

Di tengah dunia yang semakin terkoneksi satu sama lain, dan juga semakin modern. Pembelajaran dan penyebaran informasi tentang sejarah dihadirkan dengan cara yang lebih kreatif. Kita dapat melihat hal ini melalui berbagai kanal media sosial dan internet yang kini menyajikan sejarah dalam bentuk audio visual, infografis, hingga meme.

Pakaian pasukan Viking yang digambarkan dalam anime “Vinland Saga” yang serupa dengan pakaian sesungguhnya yang biasa dikenakan masyarakat Viking pada masa Eropa Abad Pertengahan, courtesy of Wit Studio

Produk budaya populer, seperti film, serial TV, musik, gim, dan lainnya, selalu memiliki dialektika tersendiri tentang pesan yangg ingin disampaikan, melalui latar cerita, dialog, maupun penokohan. Salah satunya, anime, sebagai sebuah produk budaya populer yang digemari banyak orang di Indonesia dan mampu menjadi salah satu media dalam pemahaman mengenai sejarah bagi para siswa di Indonesia.

Sebagai media untuk belajar sejarah, produk hiburan seperti anime dapat digunakan untuk memahami historical setting, historical thinking dan historical research. Bagian yang disebut pertama menekankan anime dapat menjadi sarana untuk belajar suatu peristiwa atau masa sejarah tertentu, baik peristiwa besar maupun kehidupan sehari-hari. Bagian kedua dan terakhir menitikberatkan anime sebagai cara untuk memahami bagaimana sejarawan menulis sejarah masa silam dan menerapkan filsafat sejarah sekaligus memberikan probabilias sub-narasi sejarah tentang peristiwa-peristiwa kecil yang memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan narasi dan peristiwa besar.

Ada beberapa contoh anime yang dapat digunakan sebagai sarana memahami historical setting. Vinland Saga (2019) menggambarkan dengan akurat tata kehidupan masyarakat Viking pada masa pertengahan Eropa. Mereka hidup dengan beternak dan menangkap ikan, melatih anak-anak mereka untuk menjadi penjelajah lautan dan ksatria, serta bentuk kapal longboat yang biasa mereka gunakan. Juga, anime ini menampilkan dengan akurat pakaian perang dan persenjataan yang biasa digunakan mereka, terutama pelindung kepala yang digambarkan tanpa tanduk.

Kraft Lawrence memegang sebuah koin emas, courtesy of Imagin

Selain Vinland Saga, anime yang benar-benar mengambil latar belakang historis dan menjadi contoh gampang, beberapa anime lain juga dapat digunakan untuk memahami historical setting. Spice and Wolf (2008), yang mengambil latar belakang fantasi, menyajikan kehidupan sosio-ekonomi masyarakat Eropa Barat pada masa pertengahan. Dalam sebuah adegan, dikisahkan Kraft Lawrence, protagonis dalam anime ini, bercerita mengenai sistem mata uang yang berlaku di Eropa Barat pada masa itu. Menurut Rory Naismith dalam buku Money and Coinage in the Middle Ages, wajah penguasa yang berkuasa pada suatu wilayah menjadi penentu nilai sebuah mata uang, dan jika penguasa tersebut digantikan dengan penguasa lain, mata uang yang ia terbitkan menjadi tidak berharga dan wajahnya akan digantikan dengan penguasa penggantinya.

Sebagai historical research, beberapa anime dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Hyouka (2012), yang mengisahkan kehidupan Houtarou Oreki dan klub sastra dapat menjadi contoh menarik. Dalam salah satu episode, ketika Chitanda dan Oreki sedang memecahkan misteri senyuman salah seorang guru ketika memandang gunung dekat sekolah, mereka mengunjungi perpustakaan dan membaca surat kabar lama. Pembacaan surat kabar yang mereka lakukan menyingkap fakta bahwa telah terjadi peristiwa di gunung tersebut beberapa puluh tahun yang lalu, dan salah satu orang yang diselamatkan Tim SAR adalah sang guru. Ia mengenang kembali peristiwa tersebut.

Dalam metode penelitian sejarah, seperti yang diungkapkan Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah, apa yang dilakukan Chitanda dan Oreki merupakan penerapan heuristik, metode pengumpulan sumber. Sejarawan, dalam menulis sebuah peristiwa masa lalu, memulai penelusuran mereka dengan mengumpulkan berbagai sumber yang dapat mereka akses, baik berupa arsip, surat kabar, maupun bentuk lainnya, untuk kemudian diolah dengan metode tertentu. Sumber sejarah yang telah diolah akan mengalami proses interpretasi lebih lanjut, sebelum menghasilkan sebuah narasi yang dapat dipahami orang lain.

Oreki dan Chitanda meminjam koleksi surat kabar sebuah perpustakaan, courtesy of Kyoto Animation

Terakhir, sebagai historical thinking, anime yang mengisahkan kehidupan seorang detektif mampu membantu siswa untuk belajar sejarah. Anime seperti Detective Conan (sejak 1996), Ace Attorney (2016), dan Layton Mystery Detective Agency (2018-2019) dapat menjadi media pembelajaran yang menarik. Ketiga anime ini memiliki satu hal yang sama, yakni cara tokoh utama melakukan rekonstruksi sebuah peristiwa masa lalu dengan mengaitkan berbagai temuan dan fakta.

Apa yang ditampilkan ketika anime diatas sama seperti yang biasa dilakukan sejarawan, yakni menyusun sebuah narasi sejarah. Sejarawan, dalam menulis sebuah rekonstruksi atas masa lalu, mengaitkan satu fakta dengan fakta agar terbentuk sebuah narasi yang kronologis. Narasi yang mereka hasilkan, meski tidak sama persis dengan apa yang terjadi, mampu mendekati kebenaran dan meyakinkan orang bahwa peristiwa tersebut terjadi sesuai dengan apa yang ia tuliskan. Ketiga anime ini mampu mengajak seseorang untuk memahami bahwa sejarah memiliki kebenaran yang subjektif dan sesuai dengan jiwa zaman mereka yang menuliskan kembali sejarah tersebut. Sifat ini membuat sejarah menjadi lebih berwarna dan tidak hanya sekadar memiliki narasi tungal semata.

Sebagai historical setting, historical research dan historical setting, anime dapat menjadi media alternatif dalam belajar sejarah dan kesejarahan. Tidak hanya terhibur dengan kisah fantasi yang ditampilkan anime, seseorang dapat menyelami bagaimana masa lalu serta bahwa anime bisa menjadi metode pembelajaran sejarah yang menyenangkan untuk meneritkan peristiwa historis kepada banyak orang. Anime bisa menjadi pintu masuk sebelum kita menjelajahi sejarah lebih dalam lagi.

 

Sumber : Kumparan; Smithsonian Magazine; Rory Naismith (ed.), Money and Coinage in the Middle Ages; Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah.

 

 

Putu Prima Cahyadi
Facebook : Prima Cahyadi
Email : prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id

Written By

Lich King (Editor) at Monster Journal.
Mostly writing about Social and Culture.
Also managing a site and community related to history.
Used to work as a Journalist. Now working as a history teacher.

(prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Создание учетной записи в binance
Создание учетной записи в binance
3 months ago

I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article. https://www.binance.com/ru-UA/join?ref=PORL8W0Z

创建个人账户
创建个人账户
22 days ago

Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.

riferimento binance
riferimento binance
3 days ago

Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?

You May Also Like