Categories Animology Feature

Kesenjangan Generasi dalam Dialog antara Frieren dan Fern

“Fern, tolong sambungkan kabel telepon ke koneksi Dial-up, aku mau mencari informasi Dungeon baru di internet.”

“Nona Frieren, sekarang kita tidak menggunakan Dial-up lagi.”

“Hah? Lalu sekarang pakai apa? Dulu Himmel senang sekali browsing sampai tagihan telepon mahal.”

Dialog diatas, yang diambil dari sebuah meme yang dibuat oleh Ikh Wan di media sosial Facebook. Meme tersebut menggambarkan Frieren dan Fern, dua karakter dalam anime Frieren: Beyond Journey’s End. Mereka sedang berbincang mengenai penggunaan dial-up pada 2024.

Dalam dialog, digambarkan bahwa Frieren menjadi sosok lansia yang masih hidup dengan pemikiran dan kebiasaan lama. Ini terlihat dari permintaan Frieren kepada Fern agar menyambungkan dirinya ke internet melalui dial-up. Kita juga dapat melihat ini pada bagian akhir, ketika Frieren mengenang pengalaman Himmel ketika berselancar di dunia maya.

Frieren, Fern, dan Stark dalam promotional poster anime Frieren: Beyond Journey’s End (2023), courtesy by IGN

Frieren: Beyond Journey’s End menceritakan petualangan Frieren, seorang penyihir bangsa elf setelah berhasil mengalahkan Demon King. Meski telah berusia lebih kurang satu milenium, ia masih tampil sebagai perempuan berparas muda. Kondisi ini membuatnya harus kehilangan satu demi satu anggota party-nya, termasuk Himmel, yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Bersama Fern, murid dari Heiter sang pendeta, Frieren melanjutkan petualangannya sembari belajar dari pengalaman seorang Fern.

Frieren tampil sebagai mentor bagi Fern. Meski begitu, ketidakpekaan Frieren terhadap waktu dan kondisi sekitarnya membuat ia harus belajar dari Fern. Frieren tidak hanya mengajari Fern mengenai ilmu sihir, tetapi juga belajar agar tidak berubah haluan (sidetracked).

Interaksi antara Frieren dan Fern, yang hidup dalam dua kebudayaan yang berbeda. Frieren hidup dalam dunia lama, yang dapat dikatakan sebagai kuno. Di sisi lain, Fern hidup dalam dunia baru, sebagai generasi yang kekinian. Perbedaan kebudayaan tersebut, seperti yang tergambar dalam anime, mendorong munculnya kesenjangan generasi antara Frieren dan Fern.

Frieren sebagai Cerminan Generasi Old-School

Dalam anime Frieren: Beyond Journey’s End, Frieren adalah seorang elf yang telah berusia paling tidak satu milenium, membuatnya memiliki sense yang buruk terhadap waktu. Ini membuatnya kesulitan merasakan perjalanan waktu, yang sangat cepat bagi seorang manusia.

Frieren, seorang elf berusia lebih kurang satu milenium yang menjadi cerminan generasi old-school, courtesy of Siliconera

Sebagai seorang elf yang berusia satu milenium, Frieren digambarkan hidup dalam kebudayaan yang serba old-school. Hidup setelah dua perang dunia, generasi old-school dikenal sebagai generasi yang masih memegang prinsip atau adat istiadat yang kuat. Menurut Bernadeta Rosariana dalam artikel Generasi “Milenial” dan Generasi “Kolonial”, kehidupan mereka adalah kehidupan yang kolot atau kampungan.

Selain kolot dan kampungan, generasi old-school juga hidup di masa lalu. Beberapa dari mereka masih mengandalkan beberapa teknologi serta pengetahuan yang kini tergolong obsolete. Kondisi ini, mengutip artikel yang diterbitkan Pew Research Center, membuat mereka sulit untuk berkembang dibandingkan 10 tahun yang lalu.

Meski begitu, sebagian besar generasi old-school telah ikut dalam arus pengetahuan kontemporer. Mereka mencoba untuk mengikuti perkembangan masa kini. Sebagai contoh, dalam penggunaan gawai, menurut Sherin Shibu dalam situs PCMag, generasi old-school menggunakan gawai paling sedikit 2,5 jam hingga 3 jam dalam sehari. Mereka menghabiskan 39 hari dalam setahun terkait dengan penggunaan gawai.

Kehidupan Generasi Young and Hip melalui Sosok Fern

Berbeda dengan Frieren yang menjadi cerminan generasi old-school, Fern tampil sebagai perwakilan generasi young and hip. Hal ini sesuai dengan penggambaran Frieren dalam anime Frieren, Beyond End’s Journey. Dalam anime tersebut, Fern digambarkan sebagai seorang penyihir dari ras manusia yang masih berusia antara 15 hingga 18 tahun.

Fern, seorang gadis penyihir yang menjadi representasi generasi young and hip, courtesy by AnimeNew

Sebagai generasi young and hip, Fern dengan tepat mencerminkan jiwa zaman generasi ini. Mereka hidup dalam kondisi dunia yang lebih mudah dibandingkan generasi old-school. Dalam mengakses informasi dan bertransaksi, sebagai contoh, generasi young and hip telah disediakan berbagai layanan berbasis internet yang dapat diakses hanya dengan sentuhan jari.

Berbeda dengan generasi old-school yang hidup di masa lalu, generasi young and hip hidup untuk masa depan. Mereka tidak terjebak dalam romantisisme masa lalu, seperti mengenang bangunan-bangunan tua atau kejayaan masa silam. Mereka memfokuskan diri membangun masa depan, menyusun pondasi bagi kehidupan manusia yang lebih baik.

Cita-cita untuk masa depan mendorong generasi young and hip untuk hidup bergantung pada teknologi. Mereka diharapkan dapat jeli memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk membangun kehidupan mereka. Kondisi ini membuat mereka dibebani dengan berbagai jargon serba tech-savvy oleh generasi lain, seperti revolusi industri 4.0, blockchain technology, dan artificial intelligences.

Kesenjangan Generasi dalam Dialog Frieren dan Fern

Pertemuan generasi old-school dengan generasi young and hip, seperti yang tergambar dalam meme Frieren dan Fern, mungkin akan menghasilkan sesuatu yang awkward. Perbedaan kebudayaan serta jiwa zaman mereka hidup membuat seolah-olah terdapat sebuah jurang pemisah antara mereka berdua. Jurang pemisah tersebut dikenal sebagai kesenjangan generasi atau generation gap.

Fern sedang menemani Frieren yang sedang membaca buku sihir, courtesy of Fiction Horizon

Kesenjangan generasi merujuk kepada situasi ketika generasi tua (old-school) dan generasi muda (young and hip) tidak memahami satu sama lain. Menurut definisi Cambridge Dictionary, kondisi tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan pengalaman, opini, habitus, atau gaya hidup.

Kondisi kesenjangan generasi paling mudah diamati dalam kehidupan keluarga. Dalam sebuah keluarga, terdapat kondisi orang tua dan anaknya tidak dapat menemukan kesamaan pandangan dalam suatu hal. Mengutip artikel berjudul A Generation Gap? yang ditulis oleh Kirtika Chaudhary, kondisi tersebut dapat memantik konflik fisik, kepercayaan, hingga komunikasi dalam keluarga.

“Mama” Fern memandu Frieren yang sedang mengatuk, courtesy of YouTube/@Villenthessis

Dalam kasus Frieren dan Fern, perbedaan kebudayaan menjadi dasar munculnya kesenjangan generasi. Frieren, sebagai generasi old-school, hidup dengan kebudayaan lama, yang ia anggap masih berlaku dalam kehidupan kontemporer. Di sisi yang berbeda, Fern, cerminan generasi young and hip, berada dalam kebudayaan baru, yang serba cepat dan selalu berubah.

Frieren percaya bahwa kebudayaan yang ia alami semasa hidupnya masih berlangsung hingga kini. Namun, bagi Fern, kebudayaan Frieren yang old-school sudah mengalami banyak perubahan, atau bahkan sudah tidak berlaku kembali. Untuk menyiasati kondisi ini, sebuah jembatan perlu dibangun antara Frieren dan Fern.

Pada akhirnya, dialog Frieren dan Fern tidak hanya menggambarkan sebuah kesenjangan generasi antara generasi old-school dengan generasi young and hip. Ia juga menggambarkan bagaimana kedua generasi saling berkomunikasi dan belajar, merintis pembangunan jembatan generasi yang menghubungkan mereka. Seperti Frieren dan Fern yang berhasil bersinergi dalam petualangan mereka, seperti ketika mencari keberadaan Blue Moon Weeds, generasi old-school dan young and hip dapat bersinergi, menelusuri hutan bersama-sama dalam suasana kerja sama yang hangat.

Written By

Avatar

Lich King (Editor) at Monster Journal.
Mostly writing about social and culture.
Also managing a site and community related to history.
Used to work as a journalist. Now working as a history teacher.

(prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id)

More From Author

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

You May Also Like